Tutur Kata


Bismillaah…

Terus terang saya merasa tidak nyaman ketika mendekati masa pemilu. Semua orang seakan merasa berhak untuk mengampanyekan partai atau caleg pilihannya. Kalau hanya sekadar kampanye sih boleh-boleh saja. Tapi kecenderungannya malah yang dibahas adalah hal-hal yang buruk saja, bukan kebaikan-kebaikannya. Lebih parah lagi, keburukan-keburukan itu belum tentu jelas, baik kebenarannya maupun sumber asalnya.

tutur kata

Membaca portal berita, seperti det*k, komp*s, dkk juga sama. Hampir semua isi komentar-komentarnya menjurus pada saling hina, saling mengumbar umpatan, saling tuduh. Terlepas dari apakah komentator-komentator itu memang benar-benar menggunakan emosi pada saat menuliskan, atau hanya sekadar haha hehe saja untuk memperkeruh suasana dan menaikkan traffic. Astaghfirullaah… semoga Allah mengampuni dosa saya yang telah ikut-ikutan “membeli” konten berita semacam ini, dan semoga diberi kelapangan untuk tidak lagi membuka portal-portal tersebut, khususnya yang terkait dengan berita politik.

Tak beda halnya dengan yang ada di media sosial, seperti fac*book, twitt*r, dkk. Status update dan shared link seakan tidak pernah surut dalam memperbincangkan fitnah dan ghibah. Dari mulai membagikan pernyataan kontroversial tentang keburukan seorang tokoh politik yang dianggap tidak pantas untuk dipilih, hingga menyebarkan link yang sumbernya tentu saja berasal dari portal-portal di atas. Lucunya, banyak sekali tipikal pernyataan dari si pembuat status, “saya belum tahu sih yang mana yang benar, saya juga bukan simpatisan atau kader, hanya share aja“. Lha?? kalau belum tahu kebenarannya mengapa justru disebarluaskan. Itu kan hanya ada dua kemungkinan, jika memang berita tersebut benar, maka hanya akan jadi ghibah. Namun jika isinya ternyata tidak benar, maka sudah pasti jadi fitnah. Dan sudah dapat ditebak, respon-respon yang mengikuti status semacam ini. Counter sana, counter sini, menertawakan pihak lain yang tidak sepaham secara sinis, hingga sindiran yang seakan intelek tapi penuh kata-kata kotor. Astaghfirullaah… haruskah saya tutup akun media sosial saya hanya karena banyak kemudharatan yang seperti ini?

Saudara-saudariku…

Jika Anda adalah orangtua, maka pantaskah suatu saat anak-anak Anda membaca kata-kata umpatan yang dituliskan oleh Anda sendiri? Tak heran jika banyak yang bilang perilaku anak-anak sekarang sungguh memprihatinkan. Padahal, anak adalah produk orangtuanya. Jika orangtuanya saja tidak bisa menjaga lisannya, maka jangan harap si anak menjadi bijak dalam berucap.

Bukankah Anda adalah orang yang mengaku berpendidikan? Orang yang pernah mengenyam bangku pendidikan formal dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tapi mengapa kata-kata yang keluar dari ketikan jemari Anda di keyboard seakan sama sekali tidak mencerminkan hal itu.

Orang yang perkataannya baik belum tentu baik. Orang yang perkataannya tidak baik itu sudah pasti bukan orang baik.

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan quote di atas.

—————————————————————————————————-

Terkait dengan pemilu besok dan pemilu pemilihan presiden nanti, saya ikutan sedikit kampanye ya… Saran saya, pilihlah calon atau partai yang kader, simpatisan, dan pendukungnya lebih banyak mengucapkan kata-kata santun ketimbang kata-kata yang tidak pantas. Karena suara yang akan sampai, baik secara langsung ataupun tidak, nantinya adalah suara dari para pendukungnya. Jika suara yang keluar dari pendukungnya saja tidak baik, maka kemungkinan akan menghasilkan kebijakan yang tidak baik pula. CMIIW…