Pemain Sirkus


Bismillaah…

Kata seorang kawan, konsep mengimani kepastian rezeki itu seperti halnya kalau kita melihat pemain sirkus. Kita tahu betul bahwa seorang pemain sirkus profesional pasti sudah sangat mafhum dalam menjalankan aksinya di panggung sirkus. Segala kemungkinan, risiko, dan konsekuensi pastilah sudah diperhitungkan matang-matang. Dari keterampilan, ketangkasan, kepiawaian, dan performa yang ditampilkannya pun kita sudah tahu bahwa seorang pemain sirkus profesional pasti sudah berlatih ribuan kali untuk melakukan adegan akrobatik yang berbahaya, yang sangat mungkin merenggut nyawanya jika terjadi kesalahan sedikit saja. Ya… kita tahu itu. Kita pun mempercayainya, baik dari cerita teman, acara di TV, atau melihat dengan mata kepala sendiri. Artinya, dalam benak kita pun sudah sangat yakin, bahwa ketika kita melihat 100 kali pertunjukan sirkus, dengan kondisi pemainnya tidak pernah gagal sekalipun, maka untuk pertunjukan yang ke-101 pun kita juga masih sangat yakin kalau pertunjukannya bakal berhasil lagi. Tapi bagaimana kalau kita ikut dilibatkan langsung dalam pertunjukan tersebut?

Sebagai contoh, seorang pemain sirkus yang sangat piawai berjalan di atas tali dengan ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah. Pemain ini sangat jago dalam mengatur keseimbangannya. Kalau hanya berjalan sendiri dengan sebatang tongkat penyeimbang sih sudah biasa. Pemain ini sanggup berjalan menyeimbangkan diri dengan menggendong beban berat di punggungnya. Tas penuh muatan, karung berisi pasir, air mineral galon isi air, bahkan kambing dan sapi pun pernah menemani aksinya. Catatan debutnya, sudah 100 kali pertunjukan yang dia gelar, dan tidak satu kali pun gagal. Pertanyaannya, jika pertunjukan ke-101 dia akan mengulangi aksi yang sama, hanya saja beban yang digendong adalah Anda, mau apa tidak kira-kira? :D

Inilah-Pria-Kedua-di-Dunia-yang-Mampu-Menyeberangi-Air-Terjun-Niagara_6-640x428

Kata kawan saya yang baik hati ini, seperti itulah konsep keimanan kita terhadap rezeki. Kita tahu betul bahwa rezeki dijamin olehNya. Bahkan kita sudah banyak yang hafal teori-teorinya. Kita pun sudah mafhum menjalani hidup bertahun-tahun (alhamdulillah) selalu diberi kecukupan. Dan kita sendiri pun menyatakan beriman 100% terhadap ketentuan Allah terkait rezeki. Tapi begitu dibenturkan oleh keadaan-keadaan seperti: jobless, proyek sepi, terkena PHK, banyak hutang di mana-mana, kebutuhan mendadak, dsb, justru seringnya malah kelimpungan, stres berat, dan takut seolah-olah sudah tidak ada jalan lain untuk mencari rezeki. Seperti saya contohnya… :|

Terima kasih kawan… telah berbagi. Semoga Allah senantiasa memudahkanmu dalam segala urusan. Aamiin…

——————————————————————

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu, dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzaariyat: 22-23)

“Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS. Huud: 6)

“Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar’. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. Al-An’am: 151)