Mencela yang Mencaci


Bismillaah…

stop-bullying-sign-k-7052

Nampaknya sedang ngetren membicarakan Ibu Menteri nyentrik, yang baru saja dilantik, menuai banyak kritik, karena faktor akademik, dan kebiasaan merokoknya yang kurang estetik, apalagi tatonya yang begitu eksentrik.

Konteks “membicarakan”nya di media sosial tentu saja mempunyai kecenderungan ke arah negatif. Entah mengapa kok sekarang ini kebanyakan dari kita justru bangga sekali melakukan bullying intimidatif. Baik terhadap golongan tertentu, atau figur sorotan secara subjektif. Lucunya, pelaku-pelakunya tidak sedikit yang berasal dari kalangan edukatif, yang seharusnya bijak dan arif. Bukannya malah ikut-ikutan flaming secara agresif dan provokatif.

Nah, counter attack-nya pun juga penuh dengan asumsi. Yang dibahas etika dan tradisi, kok nyambungnya ke korupsi. Yang dipermasalahkan terkait edukasi, kok beloknya ke profesi. Bukankah itu sama saja seperti membandingkan antara requirements awal dan hasil implementasi (khusus orang IT yang mungkin mengerti).

Sepertinya memang net society bidang politik sekarang telah terbagi menjadi dua pihak. Yang pro Jokowi, dan yang tidak. Yang “kotak-kotak” dan yang berkoalisi kompak. Yang pro kecenderungannya akan selalu membenarkan apapun kebijakannya walaupun tidak bijak. Yang tidak pro akan cenderung mencari-cari kesalahannya, sedikit ataupun banyak. Tak jarang modusnya adalah menyebar aib, privasi, dan fitnah hingga membuat sebagian orang melaknat dan sebagiannya lagi sorak terbahak-bahak.

Kembali ke kasus bullying terhadap Ibu Menteri. Terus terang, saya pribadi juga kurang mengerti. Mengapa orang-orang itu begitu cepat bereaksi. Atas informasi yang kurang dilandasi dengan konfirmasi. Soal pendidikan formal beliau yang kurang bergengsi. Saya pikir perlu alasan yang lebih kuat lagi mengapa beliau bisa begitu sukses dalam usahanya sendiri. Kalau hanya faktor luck, mengapa begitu banyak lulusan perguruan tinggi di negeri ini yang justru sedikit yang berkompetensi. Soal kehalalan usahanya, sebaiknya diskusi di lain sesi. Terkait kebiasaan merokoknya ketika berada di sorotan publik yang mengamati. Nah, ini termasuk salah satu hal yang perlu dikritisi. Tapi tidak perlu sampai menjadi bahan cemooh yang menyakiti. Yang pro juga tidak perlu membaurkan antara yang buruk dengan yang baik dan terpuji. Kalau memang ada yang tidak baik, ya ikutlah ambil bagian sebagai entitas yang ingin memperbaiki. Bukannya malah membela membabi buta dengan slogan “Jokowi harga mati”. Penilaian serupa juga sebaiknya berlaku terhadap isu-isu lainnya, terkait cara berpakaiannya, terkait tatonya, terkait wacananya yang agak nyleneh, atau terkait keluarganya yang bukan berkebangsaan Indonesia asli. Jangan lantas tiba-tiba disandingkan dengan eks gubernur Banten yang berjilbab namun korupsi. Kenapa tidak disandingkan saja dengan si Putri Indonesia yang tidak berjilbab dan juga korupsi. Proporsional saja lah… kita sendiri juga belum tentu lebih baik dari siapapun di dunia ini.

Tapi siapalah saya ini. Hanya bisa mengomentari orang yang mencela orang yang mencaci Ibu Menteri (mengerti kan maksudnya?? :P ). Segala kesalahan mohon dimaklumi. Segala kealpaan mohon jangan dimasukkan hati. Mari bersama-sama memperbaiki diri. CMIIW…