Posted by: Andik Taufiq | March 22, 2009

Bandung… Rainy Day

Bismillaah…

Entah mengapa cuaca di Bandung akhir-akhir ini sangat kurang bersahabat. Setelah sekitar selama satu minggu sebelumnya begitu cerah dan terang benderang, tiba-tiba hari ini, selepas waktu dhuhur, hujan turun dengan begitu derasnya. Bahkan di beberapa ruas jalan seperti jalan Surapati (Suci), air pada turun ke jalan laiknya para anggota ormas yang akan melakukan demo (halah lebay hehe). Akibatnya, di ujung jalan layang Pasupati sedikit mengalami kemacetan dikarenakan banyaknya kendaraan yang mogok. Saya sendiri sempat khawatir bahwa motor yang saya tumpangi bakal bernasib serupa. Bagaimana tidak, air yang tergenang sudah mencapai mata kaki saya, yah meskipun tidak setinggi lutut orang dewasa sebagaimana yang sering muncul di acara berita televisi. Ditambah lagi adanya efek kelajuan dari kendaraan-kendaraan lain yang semakin membuat sulit menjaga keseimbangan dari terjangan air yang membentuk beriak-beriak kecil. Tapi alhamdulillaah, setelah berjuang selama +-5 menit, saya lolos dari area banjir tersebut.

Hujan Deras Melanda Bandung

Hujan Deras Melanda Bandung

Jadi teringat, seorang teman pernah mengatakan bahwa drainase kota Bandung itu sangat jelek. Entah yang dimaksud jelek di sini itu seperti apa. Yang jelas, tiap kali hujan deras datang, kebanyakan jalan raya di Bandung selalu terendam air. Padahal jika saya perhatikan, jalan raya di Bandung ini termasuk wajar-wajar saja. Ada selokan di sepanjang sisi jalan, ada jalur hijau untuk penyerapan air, dan ada pula lubang penyaluran air dari jalan raya ke selokan di sampingnya. Jika begitu, seharusnya air tidak sampai menggenangi jalan, cukup di selokan saja. Tapi entah tiap kali hujan air selalu meluber ke jalan. Karena banyak sampah kah? Who knows…

Agak ironis memang, karena kota Bandung yang saya maksudkan di sini adalah Bandung Utara yang notabene lebih tinggi dibanding Bandung Selatan yang memang sudah sering langganan banjir. Mungkin hal ini juga bisa menjadi jawaban atas pertanyaan, mengapa jalan-jalan di kota Bandung sering rusak. Saya lebih prefer mengatakan bahwa tergenangnya air hujan inilah yang menjadi penyebab utama jalan raya di Bandung sering rusak. Ketimbang pendapat lain yang mengatakan bahwa sering rusaknya jalan raya di Bandung ini karena struktur tanah yang kurang bagus. Yah selain karena faktor X lho ya.

Kembali ke cerita hujan deras tadi. Kalau kita perhatikan, sekarang ini sudah menginjak bulan maret yang seharusnya musim penghujan sudah berganti jadi kemarau. Atau kalau orang jawa biasanya mengistilahkan maret itu dikiaskan dengan “ma’ ret” yang artinya hujan sudah seret atau berhenti. Tapi kenyataannya beberapa tahun terakhir ini malah “salah mongso” atau salah musim. Apa penyebabnya? Pemanasan global kah? Entahlah… Tadi saya juga mendapat kabar dari beberapa teman di jogja dan surabaya bahwa di sana hari ini juga turun hujan lebat. Berarti mungkin kebanyakan daerah-daerah di pulau jawa kompak mengalami hal yang sama. Yah, bagaimanapun juga semoga hujan tetap pada definisi awalnya, yaitu memberikan rahmat dan barokah untuk muka bumi.

Rainy Spidey

Rainy Spidey

Posted by: Andik Taufiq | March 5, 2009

Panoramic Photography untuk Pemula

Bismillaah…

Para pembaca yang budiman dan budiwati (halah)… #thanks to bu Ratih Dwi Setyaningrum, S.Far (komplit amat) -_-’ atas usulan kata-kata pertamanya#. Kali ini saya akan mencoba sedikit berbagi dalam hal yang entah kenapa akhir-akhir ini seringkali saya geluti, yaitu dunia perjepretan alias fotografi. Maklum, setelah terkena efek krisis global sehingga harus mengalami “perampingan”, ee walhasil malah punya relatif lebih banyak waktu luang. Yah, walaupun masih pemula dalam dunia fotografi (kalau orang Jawa bilang: seh lagi iso nyekel kamera wae kemaki – baru bisa megang kamera saja belagu), tapi bagi saya tidak mengapa, karena seperti kata orang bijak yang mengatakan: “sombong dulu baru pinter, kalau nunggu sombongnya kapan pinternya”. Tapi saya tidak bermaksud sombong jhe, hanya berbagi pengetahuan saja. Semoga bermanfaat… :D

Ok… Seperti yang tertera pada judul, kita akan membahas apa yang disebut sebagai panoramic photography. Asal kata panoramic sebenarnya diambil dari kata “panorama” yang berarti pandangan yang luas atau lebar dari suatu landscape atau representasi ruang tertentu. Kriteria luas atau lebar tersebut sebenarnya bergantung dari sudut pandang mata kita (angle), bukan dari luasnya objek yang tercakup dalam pandangan kita. Jika diistilahkan, maka panoramic itu dihasilkan dari wide-angle, bukan wide-area.

angle vs area

angle vs area

Dalam dunia fotografi sendiri, hasil pencitraan panoramic sebenarnya sudah difasilitasi dengan adanya wide-angle lens dan variannya, seperti fish-eye lens (menghasilkan efek pencitraan yang bulat/spherical seperti mata ikan :D ), yang memang didesain sedemikian rupa agar lensa tersebut dapat menerima citra dari angle yang luas. Namun, kriteria lebar atau luasnya sendiri sebenarnya sangat relatif, belum ada ketentuan khusus mengenai besar sudut minimum bahwa suatu lensa bisa disebut sebagai wide-angle lens atau tidak. Karena setiap lensa pasti mempunyai angle maksimum tertentu, hanya saja besarannya berbeda-beda. Tapi memang kebanyakan orang akan menyebut suatu lensa itu sebagai wide-angle lens jika wide-anglenya relatif lebih besar dibanding lensa-lensa pada umumnya.

Read More…

Posted by: Andik Taufiq | February 22, 2009

Hero

Bismillaah…

Hero – Mariah Carey

no title -_-'

There’s a hero… if you look inside your heart
You don’t have to be afraid… of what you are
There’s an answer… if you reach into your soul
And the sorrow that you know… will melt away

And then a hero comes along… with the strength to carry on
And you cast your fears aside… and you know you can survive
So when you feel like hope is gone… look inside you and be strong
And you’ll finally see the truth… that a hero lies in you

It’s a long road… when you face the world alone
No one reaches out a hand… for you to hold
You can find love… if you search within yourself
And the emptiness you felt… will disappear

And then a hero comes along… with the strength to carry on
And you cast your fears aside… and you know you can survive
So when you feel like hope is gone… look inside you and be strong
And you’ll finally see the truth… that a hero lies in you

Lord knows… dreams are hard to follow
But don’t let anyone… tear them away
Hold on… There will be tomorrow
In time… you’ll find the way

And then a hero comes along… with the strength to carry on
And you cast your fears aside… and you know you can survive
So when you feel like hope is gone… look inside you and be strong
And you’ll finally see the truth… that a hero lies in you

Laa yukallifullaahu nafsan illa wus’aha.. lahaa maa kasabat wa’alayhaa maktasabat..
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

Posted by: Andik Taufiq | February 1, 2009

Tetap Semangat!!!

Bismillaah…

Nampaknya saya sudah lama tidak meng-update blog ini. Yah, beginilah kalau orang yang tidak rajin (alias: males) mencoba nge-blog. Dari lubuk hati nurani yang paling dalam sebenarnya ingin sekali menjadi orang yang mempunyai ritme hidup teratur, disiplin dalam hal waktu, dan ajeg dalam berkarya. Tapi sepertinya masih perlu banyak-banyak belajar dan belajar mengenai hal ini. Tapi ya sudahlah, sembari membangkitkan motivasi hidup yang semakin lama semakin menurun (baca: anjlok), saya akan memulainya dengan postingan-postingan yang ringan terlebih dahulu (halah, emangnya pernah ya posting tentang hal-hal yang berat?? hehe).

Begini ceritanya:
Beberapa waktu yang lalu, seperti halnya yang saya lakukan setiap akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri untuk ngobrol via telepon dengan orangtua di Surabaya. Tidak seperti obrolan-obrolan biasanya yang hanya sekadar menanyakan kabar, chit-chat sana-sini, atau cerita tentang carut mawutnya permasalahan sanak keluarga yang tidak pernah ada habisnya. Namun, waktu itu ada hal lain yang sebelumnya tidak pernah atau jarang sekali orangtua saya membahasnya. Yaitu tentang “jodoh”.

Ibu: “Lha endi calone, wis ono durung??”. (Lha mana calonnya, sudah ada belum??).
Saya: “hehe”. (hehe).
Ibu: “Yo wis tenang ae, ra usah mikir nemen-nemen, paling-paling bar iki ono sing moro-moro teko, trus njekethek dadi wae”. (Ya sudah tenang aja, ga usah mikir terlalu berat, paling-paling abis ini tiba-tiba ada yang datang, trus -maaf bingung mengartikan “njekethek”- jadi aja).
Ibu: “Ibu Bapakmu biyen kae kenale ora suwe kok, mung 2 wulan, tapi malah iso dadi, dan alhamdulillah iso awet tekan saiki”. (Ibu Bapakmu dulu itu kenalnya ga lama kok, cuman 2 bulan, tapi malah bisa jadi, dan alhamdulillah bisa awet sampe sekarang).
Saya: “hoo”. (hoo). –> speechless mode on

Yah… begitulah sekelumit postingan saya kali ini. Mohon maaf jika kurang bermanfaat. :D

tetap semangat

tetap semangat

Posted by: Andik Taufiq | August 7, 2008

My Lucky Number 7

seumur-umur baru 2 kali ultah dirayain pake ginian

nampak seger kan?? slurp...

pada brutal

pada brutal

sepertinya ga akan ada yang tersisa


Bilangan demi bilangan berdetak menuju titik tak berhingga
Suatu titik kulminasi dimana 0 itu bukan berarti tidak ada
Tak ayal tiap titrasi hanya terbias indah dengan sempurna
Padahal, ada galat yang akan selalu bersanding dengan toleransi
Ini ‘mungkin’, itu merahku, yang di sana hanyalah sebuah keegresifan
Tapi bagaimanapun juga, ‘keharusan’ itu tetap menjadi ‘harus’, bukan ’seharusnya’
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Mohon maaf sebesar-besarnya atas segala khilaf yang saya lakukan selama ini. Mungkin tanpa sengaja atau tidak telah menyinggung perasaan rekan-rekan sekalian. Terima kasih semuanya… yang sudah menyempatkan waktunya untuk sekadar mengucap ‘Selamat Ulang Tahun’, yang sejenak mengiringinya dengan doa, atau yang telah menyiapkan pesta kecil yang begitu berkesan. Semoga segala doa yang telah terucap dapat menjadi barokah untuk kita semua. Aamiiiin…

Alhamdulillaah… Lahaula wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil adhim… Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Posted by: Andik Taufiq | July 23, 2008

Sensasi Rawit

rawit

nasgor rawit

Bagi yang terbiasa makan malam di luar atau yang memang mempunyai kegemaran berwisata kuliner, khususnya di daerah Bandung dan sekitarnya, rasanya warung kaki lima satu ini pantas untuk dicoba. Namanya Zia Food dan berlokasi di depan seberang Giant Pasteur agak ke barat sekitar 100 meter sebelum pomp bensin sebelah kanan BTC. Sebenarnya kami (i-moovers) kurang familiar dengan nama Zia Food, kami biasa menyebutnya dengan “rawit”. Jadi kalau saya mengajak rekan-rekan untuk makan di sana hanya cukup mengatakan, “makan di rawit yukk…”. Kami begitu familiar dengan istilah ini karena memang menu paling enak yang disajikan di situ adalah nasi goreng spesial rawit, yaa.. setidaknya itu menurut opini saya pribadi dan dari testimoni beberapa rekan yang pernah makan di situ.

Apa sebenarnya keistimewaan dari nasi goreng spesial rawit ini sehingga kami menyebutnya dengan begitu “istimewa”? Secara penyajian nampaknya tak jauh berbeda dengan warung-warung kaki lima lainnya. Jika kita makan di tempat, maka kita akan disuguhkan sepiring nasi goreng berwarna merah kecoklatan dengan taburan bawang goreng di atasnya, selembar telor dadar goreng berbentuk persegi, sejumput acar, dua iris mentimun dan tomat. Serta tidak lupa satu piring kecil krupuk mini (maaf, saya tidak tahu namanya) sebagai penambah sensasi gurih pada saat menikmatinya. Atau jika Anda meminta untuk dibungkus, maka akan langsung dikemas dalam sekotak stereofoam including satu buah sendok plastik dan dibundle dengan krupuk mini berbungkus plastik sebagai satu kesatuan “paket bungkus”. Memang sih, sangat tidak ramah lingkungan. Ya itu saja, tidak ada yang spesial bukan? Lalu, apa yang membuatnya relatif lebih istimewa dibanding menu nasi goreng yang lain? Ok… Kita lihat saja dari namanya terlebih dahulu. Rawit, ya itu bedanya. Tumisan halus cabe rawit pedas yang dicampurkan beberapa saat sebelum nasi goreng siap dihidangkan, hampir dapat dipastikan bahwa hidung yang mencium aromanya akan terasa “kemranyas”. Tidak terbatas hanya baunya, ketika dinikmati pun, sensasi pedasnya begitu luar biasa. “Ma’nyoss” kalau orang Jawa bilang. Setelah makan, maka dijamin pasti akan keluar keringat sejagung-jagung di wajah Anda. Bagi yang tidak suka masakan pedas pun rasanya pasti akan tergoda dengan sensasinya. Saya sendiri tidak suka pedas, tapi entah kenapa nasi goreng spesial rawit ini sudah lama ada dalam daftar makanan favorit saya. Tidak kurang dari tiga kali dalam seminggu, saya pasti menyempatkan diri ke “rawit” untuk makan malam. Entah karena memang sudah terngiang-ngiang dengan rasanya yang mantap, atau karena memang tidak ada pilihan menu lain tiap malamnya :( .

Sebenarnya ada menu lain yang disediakan, seperti nasi goreng kambing, capcay, cah kangkung, dan beberapa menu lain yang mungkin lebih cocok disebut sebagai menu khas chinese food. Overall… setiap menu yang disajikan memiliki cita rasa yang istimewa. Gampangnya dapat dikatakan bahwa bumbunya itu tidak ada yang nanggung. Mantep laah pokoknya. So, bagi Anda penggila makanan bercita rasa tinggi, khususnya nasi goreng, tidak ada salahnya untuk mampir sejenak ke warung tenda yang satu ini. Selamat menikmati!!

(Niatnya sengaja menggunakan bahasa ala acara wisata kuliner, tapi malah jadi agak aneh, ya sudahlah apa adanya saja :D )

Posted by: Andik Taufiq | June 18, 2008

Three Sheets at Rendezvous

Batu Karas, June 8th 2008
Batu Karas

As long as I have it true..
That pearl has always be set to the purple
It has no fear to the dark stone,
but definitely must be devoted by frozen throne
They said, “it’s always be the same.. why??”

As long as I have it true..
The dust can’t make any movements without wind
And of course there will be no scattered waves
However, dews always exist between them
They said, “what’s wrong with you??”

As long as I have it true..
Castles made of sand fall into the sea, eventually *)
Never was so much owed by so many to so few **)
Be honest, you saw more than rocks, sands, and even caves, don’t you?
They said, “ooh.. it’s just some problems”

And if it’s true..
It will be three sheets at rendezvous
No doubt, it’s the harmony of sea, sand, and sun
So I close my eyes and open up my heart
I say, “obviously.. there are no longer the two colors”

* Castles Made of Sand – Jimi Hendrix
** A famous speech made by Winston Churchill to the House of Commons of the British Parliament on August 20, 1940, at the height of the Battle of Britain, often viewed as the most critical turning point of World War II.

Posted by: Andik Taufiq | June 10, 2008

Menjadi Lebih Baik dengan Menulis

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman. Teman yang saya anggap mempunyai kelebihan dibanding saya dalam hal manajemen waktu, manajemen diri, dan manajemen masalah. Teman yang saya anggap memiliki “ritme” hidup relatif lebih baik daripada saya. Melalui diskusi itu, alhamdulillaah… saya mendapat sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang mungkin akan sangat membantu memberi pencerahan atas “keruwetan” hidup saya selama ini. Ya, saya ini termasuk salah satu orang yang masih merasakan hidup yang kacau balau dan “semrawut”. Atau kalau istilah “londo”nya biasa disebut cruel life, yang saking “kruwel-kruwel”nya sampai ga jelas mau berbuat apa, mau kemana, apa tujuannya, apa targetnya, dsb (lho.. kok malah curhat). Ok, dengan niat tanpa mengurangi nilai kesan yang saya dapat, saya bermaksud membaginya dalam blog ini. Semoga bermanfaat.

Begini ceritanya, waktu itu saya menanyakan kepada teman saya itu satu hal. Bagaimana sih caranya agar kita bisa belajar me-manage hidup ini dengan baik? Satu jawaban, mulailah dengan belajar menulis secara teratur. Semakin sering kita menulis, maka semakin teratur hidup kita. Ada yang aneh? Mungkin tidak, sebab kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Sederhananya begini, untuk menulis, kita memerlukan tema atau topik pembahasan tertentu. Untuk membahas suatu topik, acapkali kita membutuhkan bahan atau referensi. Entah dari pembicaraan dengan teman, materi perkuliahan, pengamatan atas kejadian aktual, membaca buku, dsb. Dan itu baik disadari maupun tidak, ketika kita membuat suatu tulisan, kita pasti menuangkan ide kita berdasar atas apa yang telah kita pelajari dari referensi. Untuk mempelajari sesuatu kita pasti perlu meluangkan alokasi waktu. Nah, kita tahu bahwa dengan mengatur alokasi waktu, sedikit banyak kita akan membiasakan diri kita untuk memperbaiki pola hidup kita dari segi waktu.

Namun tidak bisa disangkal, ada kalanya kita, saya khususnya, terserang suatu penyakit yang disebut dengan “malas”. Jika sudah malas, suatu pekerjaan sesedikit apapun tidak akan bisa selesai. Waktu pun berjalan terasa sangat cepat dan ujung-ujungnya kita tidak mendapat hasil apapun alias nihil. Saya yakin, tidak sedikit yang mengalami hal ini. Kalau sudah begini, biasanya yang terjadi adalah efek kontinuitas. Semakin lama kita membiarkan ke”malas”an kita, maka akan semakin terbiasa pula pola hidup kita mengikuti ke”malas”an itu. Hari demi hari pun pasti akan didapati pola “ritme” ke”malas”an yang serupa. Padahal manusia itu pada umumnya cenderung “nyaman” atas kebiasaan yang biasa dia lakukan. Sehingga tidak bisa disangkal, bahwa effort untuk mengubah kebiasaan itu jauh lebih sulit daripada merumuskan kebiasaan itu sendiri. Contoh simple-nya seperti ini, mengubah jam tidur lebih awal 1 jam setiap harinya jauh lebih sulit dilakukan daripada hanya mengatakan, “aku harus tidur lebih awal agar bisa bangun pagi”. Nah, dengan belajar menulis secara teratur, mau tidak mau kita juga dipaksa agar terbiasa dengan pola pencapaian target. Semisal, ada mahasiswa yang sedang mengerjakan tesis atau tugas akhirnya. Jika dia tidak menentukan target kapan selesainya, maka pasti tesis atau tugas akhir itu akan molor dan mungkin akan semakin terbengkelai. Jika target-target telah ditentukan, bulan ini selesai bab ini, jam segini harus ada data yang masuk tiap harinya, x jam setiap minggunya harus ada evaluasi, dsb, maka setidaknya ada progress tiap satuan waktunya yang bisa menjadi kontrol atas terselesaikannya tesis tersebut. Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita melakukannya dengan “teratur”. Sekali lagi, “melakukannya” bukan hanya “merumuskannya”.

Untuk itulah, tidak ada salahnya jika kita mulai dengan menulis secara teratur. Dengan menulis, kita pasti “melakukan” sesuatu, yaitu kegiatan menulis itu sendiri. Dan yang pasti ada wujudnya, tulisan. Lalu, bagaimana halnya dengan orang yang belum terbiasa menulis? Sulit memang, tapi banyak pendapat dari rekan-rekan yang terbiasa menulis yang mengatakan begini, coba “mulailah” dengan menuliskan sesuatu, apapun itu. Jika kita sudah mengawalinya dengan menuliskan sesuatu, maka selanjutnya kita akan bisa mengalir secara sendirinya. Untuk belajar mengawalinya, kita bisa tulis satu kalimat pembuka. Jika tidak bisa satu kalimat, maka cukup satu kata awal. Jika tidak bisa satu kata, maka cukup tuliskan satu huruf saja untuk kata pertama. Masa’ menuliskan satu huruf saja tidak bisa? :D . Yah, semoga bisa mengingatkan kita, khususnya saya untuk mencoba menjadi lebih baik. Aamiiiin…

Posted by: Andik Taufiq | May 26, 2008

Be Positive, Ga Pake Tapi-tapian

X: “Aku sayang ama kamu sejak kamu hadir di situ, tapi sekarang kamu tuh ga tau kalo aku sayang kamu, kamu tuh ga pernah… ” (dengan nada agak membentak)
Y: “Itu dia masalahnya Gas, aku ga pernah bener-bener tau… Aku nunggu Gas.. nunggu… Tapi akhirnya aku sadar satu hal, kamu ga sesayang itu sama aku…”

Ya.. penggalan kalimat di atas adalah sedikit cuplikan dari dialog yang ada pada adegan film Alexandria dan terdapat juga pada lirik lagu “Menunggu Pagi” yang dibawakan oleh grup band ternama asal Bandung, Peterpan. Dialog itu muncul kira-kira pas menit kedua detik ke-19 pada lagu tersebut. Tapi, di sini saya tidak akan membahas jalan cerita yang ada pada film Alexandria ataupun mengupas tuntas makna tersirat yang terdapat pada lagu “Menunggu Pagi”, apalagi membahas tentang Peterpan (hadeu.. hadeu.. -_-’). Kutipan dialog di atas hanyalah sebagai ilustrasi pembuka dari apa yang akan kita bahas kali ini.

Jika kita perhatikan (terutama bagi yang sudah pernah “mendengar” dialog ini), bahwa si cowok X dengan nada penuh emosi mengungkapkan kekesalannya, ketidakterimaannya, kekecewaannya terhadap si cewek Y. Coba kita cermati lebih dalam, apa sih sebenarnya yang menyebabkan cowok X terlihat begitu kecewa, bahkan sampai membentak-bentak si cewek Y? Kesal karena cintanya tidak diterima kah? Menyesal karena telah merasa memberikan banyak hal kepada si cewek Y kah? Ataukah hanya sebagai ungkapan kekecewaan atas reaksi penolakan cewek Y yang tidak sesuai dengan keinginannya? Yang jelas semuanya bisa menjadi latar belakang atas terjadinya konflik yang digambarkan pada dialog tersebut.

Dalam permisalan yang lebih umum, misalnya dalam hubungan pertemanan, sering kita jumpai banyak kasus ketidakharmonisan yang terjadi, entah itu karena salah paham, mood yang sedang kurang bagus (lagi bete bo’), atau bisa jadi karena memang ada pihak yang benar-benar kurang benar dalam menempatkan niatnya (halah… membingungkan ya :P ). Ketidakharmonisan yang ter-expose pun bisa bermacam-macam. Ada kalanya emosi sampai mencuat ke permukaan, sampai “misuh-misuh” kalau orang Jawa bilang (saya pikir untuk pisuh-memisuh tidak perlu dicontohkan ya :D ). Bisa juga yang terjadi adalah kasus yang nampaknya lebih sering terjadi pada hubungan inter-personal di sekitar kita, yaitu konflik batin. Mulai dari curhat ke teman yang dianggap relatif “aman”, diam karena ga enak hati, sampai perang dingin dengan tidak saling menyapa adalah hal-hal yang biasa terjadi akibat adanya konflik batin ini. “Wah… si A kok gitu sih, padahal gue udah membantu dia mati-matian”, “Kok sepertinya ga ada yang mau mengerti aku sih :( “, “Apa salah saya kok tiba-tiba dia begitu??”, serta ungkapan-ungkapan setipe lainnya adalah sebagai contoh ekspresi yang sangat wajar terjadi jika kita sedang ada masalah dengan seorang atau beberapa orang dalam lingkup relationship kita. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa sampai timbul ekspresi-ekspresi seperti ini? Dari mana sih datangnya perasaan ga enak yang seringkali “ngganjel” di hati ini? (kadang-kadang saya ini memang aneh, hal-hal yang normal kok dipertanyakan.. hehe).

Ok… Sebelum kita melihat orang lain, ada baiknya jika kita kembalikan ke diri kita sendiri dulu. Salahkah jika kita berniat membantu teman yang sedang membutuhkan bantuan? Kurang terpujikah jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain agar orang itu bersikap baik juga ke diri kita? Atau berdosakah jika kita berkorban untuk saudara kita yang sedang kesulitan agar suatu saat jika kita berada di posisinya dia juga akan melakukan hal yang sama untuk kita? Saya pikir tidak ada yang salah selama niat kita baik. Tapi, apakah lantas kita jadi marah jika teman yang kita bantu, bilang “terima kasih” pun tidak? Apakah kita jadi tersinggung hanya karena orang yang kita beri hadiah malah jadi cuek bebek? Apakah kita selalu sewot jika ada orang lain yang tidak sesuai dengan kemauan kita? Ya… pada akhirnya semua bisa kita runut bahwa ujung-ujungnya memang bergantung diri kita sendiri. Cara pandang kita akan sangat menentukan bagaimana kita menyikapi suatu hal. Diantara banyaknya “collision” yang terjadi dalam kehidupan ini, satu hal… Be positive!!! Berusahalah untuk selalu berpikir positif. Dengan berpikir positif, setidaknya kita bisa memandang segala sesuatu secara lebih obyektif. Dengan berpikir positif, kita bisa mengurangi apa yang “seharusnya” tidak mengganjal di hati. Kita ya kita, bukan orang lain. Kita tidak akan pernah bisa menjadi orang lain, apalagi mengubahnya sesuai kemauan kita. Yang bisa kita kendalikan hanyalah diri kita sendiri. Kalau mau berbuat baik ya berbuat baik saja, jangan pernah berharap bahwa orang lain akan sesuai dengan yang kita mau.

Yah, semoga bisa sedikit mengingatkan, khususnya untuk saya sendiri mengenai pentingnya berpikir positif ini. Sedikit review, mungkin ada yang pernah mendengar prinsip semacam ini: “Kamu baik saya baik, tapi jika saya dijahati, saya akan membalasnya dengan lebih jahat”. Sudahlah… ga usah pake tapi-tapian, udah ga njaman coy… Cukup begini saja: “Saya baik kamu baik”, itu jauh lebih baik ;) . Ok… Marilah kita sama-sama belajar menciptakan atmosfir relationship yang “enak” dengan berpikir positif. Don’t think twice, think positive!!!

Posted by: Andik Taufiq | May 22, 2008

Sekarang Adalah Kenangan

Pernahkah Anda ingin kembali ke masa lalu? Pernahkah Anda merasakan bahwa masa lalu Anda adalah jauh lebih indah daripada apa yang Anda rasakan sekarang? Jika pernah, mungkin Anda bukan orang satu-satunya yang mengalaminya. Saya juga termasuk salah satu orang yang bahkan hampir setiap saat selalu teringat apa yang saya alami di masa lampau. Entah karena ingatan saya yang terlalu kuat atau memang saya ini termasuk orang yang “metal” (mellow total) atau mungkin saya saja yang kurang bisa bersyukur dengan kehidupan sekarang… entahlah, belum tahu.

Seringkali ketika melewati tempat-tempat tertentu, langsung teringat bagaimana suasananya ketika dulu berada di tempat itu. Waktu itu bersama siapa saja, dalam rangka apa, apa saja yang diobrolkan, semuanya teringat dengan jelas. Bahkan sepenggal lantunan lagu dari MP3 player saja, hampir pasti bisa mengingatkan kapan lagu ini dulu sering saya dengarkan. Dari masa-masa 2 tahun yang lalu, hits-hitsnya Letto dan Samson yang mengingatkan suasana terjun di dunia kerja untuk pertama kalinya, sampai “Step by step”nya New Kids on The Block ketika masih seumuran anak TK, hampir semua teringat dengan jelas. Aneh, padahal tidak semua yang saya alami di masa lalu adalah hal-hal yang menyenangkan, banyak diantaranya sangat tragis dan mengharukan (halah berlebihan). Sebagai contoh, saya itu dulu selalu “kehilangan” orang (baca: cewek :P ) yang saya sukai (jujur banget yah… hehe). Tapi mengapa terkadang ingiiin sekali kembali ke masa-masa itu. Kok rasanya tidak ada hal yang menyakitkan dari masa lalu, benar tidak? Bahkan tak jarang tersenyum-senyum sendiri dan air mata tidak sengaja menetes ketika “Semua tak Sama”nya Padi terdengar di telinga dan langsung seolah-olah membawa saya ke acara perpisahan kelas SMA beberapa hari setelah UMPTN, bulan Juli 2001 (setelah tes masuk jurusan baru di ITS, Sistem Informasi untuk angkatan tahun 2001) sampai untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Bandung pada tanggal 7 Agustus 2001 (that’s my birthday :D ). Atau agak sedikit ke belakang, Rabu 3 November 1999 ketika Padi dengan “Sobat”nya melakukan konser (event yang diadakan sekolah SMA) di gedung Go-Skate jalan Embong Malang, Surabaya, dan besoknya ada teman sekelas yang pindah sekolah ke Bandung, lalu besoknya lagi 5 November 1999 ada penerimaan raport untuk catur wulan kedua. Ke belakang lagi, “You’re Still the One”nya Shania Twain pada saat study tour SMP ke Bali pada bulan Maret 1998. Atau agak jauh lagi ke belakang, “Mungkinkah”nya Stinky yang masih teringat ketika ada acara alam di Coban Rondho sekitar pertengahan tahun 1997. Percaya atau tidak, saya tidak pernah mencatat itu semua. Saya bukan tipe orang yang suka dan rajin mencatat aktivitas/jadwal menggunakan diary, notebook (kertas, bukan laptop), atau apalah namanya itu.

Ada lagi yang benar-benar membuat saya ingin kembali ke masa lalu, yaitu ketika mendengar ada orang yang tilawah Qur’an, apalagi dengan nada yang ma’nyus (kalau orang Jawa bilang). Pasti akan langsung mengingatkan saya akan masa-masa puasa Ramadhan. Entah kenapa tiap kali Ramadhan, saya selalu mengalami hal-hal yang paling “indah”. Sudah 18 kali Ramadhan sejak saya pertama kali berpuasa waktu masih kelas 1 SD. Mulai dari pengalaman bermain, suasana pondok Ramadhan, merasakan nikmatnya kebersamaan dengan teman, libur sebulan Ramadhan waktu pemerintahan Gus Dur tapi tetap ada tugas kelompok Fisika dan “senam aerobik”, pengalaman “hati”, menikmati kesendirian waktu i’tikaf, memasak bareng di kos, pengalaman “hati” (lagi.. ups), sampai indahnya momen-momen sahur dan buka bersama di kantor yang begitu luar biasa terasa sampai sekarang.

Mungkin ada benarnya jika sebagian orang mengatakan bahwa masa lalu itu tidak mungkin kita lupakan, tapi kita juga tidak akan pernah bisa kembali ke masa itu. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengambil hikmah dan pengalaman dari apa yang telah kita alami. Baik itu masa lalu yang buruk ataupun yang manis, semua bisa diambil manfaatnya. Bagi saya pribadi, sepertinya semua masa lalu berupa kenangan yang manis. Entah karena sudut pandang saya yang cenderung positif dalam menanggapi segala hal, atau karena memang saya termasuk orang yang beruntung karena tidak pernah mengalami kejadian yang mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai “trauma”. Tapi yang jelas, semua yang kita alami saat ini, detik ini, pasti hanya akan menjadi kenangan di masa yang akan datang (kalo kita masih diberi kesempatan hidup dan mengingat tentunya :D ). Bagaimanapun juga, sekarang ini kita sedang meng-create kenangan untuk masa yang akan datang. Jadi, saya pikir tidak ada salahnya jika “saat ini” juga kita membuat suatu pengalaman yang paling indah untuk kita kenang di kemudian hari. Mari kita jadikan setiap saat adalah momen yang paling indah dalam hidup kita. Tetap semangat!!! :D

Older Posts »

Categories