Tornado Kecil


Bismillaah…

Nampaknya, aku sudah lama tidak berkunjung ke kampus kesayanganku ini. Tidak banyak yang berubah, terutama suasananya yang rimbun dikelilingi banyak pepohonan. Gedung-gedungnya pun masih terlihat sama. Pilar-pilar batu, atap sirap yang tersusun dari ribuan kayu-kayu kecil, juga paku air yang masih menancap di tempatnya.

Tapi hari ini tidak seperti hari-hari yang sebelumnya, dimana aku lebih sering menuju lingkungan STEI, jurusan tempatku berkuliah dulu. Atau hanya sekadar mampir sholat di Salman. Sekarang, agak berbeda. Seakan ada hembusan angin yang mendorongku untuk berjalan lebih jauh lagi ke belakang, melewati Plaza Widya. Menuju Departemen Geofisika dan Meteorologi (GM). Satu tempat yang sama sekali jarang kupijak. Mungkin pernah, tapi hanya lewat. Seingatku, aku tidak pernah berurusan terkait apapun di GM. Baik urusan akademik, maupun… “lainnya”.

Kalau mau jujur, sebenarnya tidak banyak kenangan yang kutinggalkan di kampus ini. Jangankan ikut kegiatan kemahasiswaan, OSPEK pun aku kabur. Jangankan aktif di unit, kerja kelompok pun aku malas beranjak. Aku memang pantas disebut sebagai mantan mahasiswa “kupu-kupu”, kuliah-pulang-kuliah-pulang. Tapi mengapa sekarang aku malah ada di GM? Salah satu tempat di kampus ini yang aku sendiri jarang ke sini.

Wind_Release_Rasengan

Sekitar lima menit aku berdiri terpaku sambil berpikir keras, mengapa aku sampai ke sini. Di depan gedung ini. Sendirian lagi. Yaa… masih lebih baik sih, daripada sudah sendirian, ee diajak ngobrol sama Dona lagi. Hingga tak lama ada angin kencang menuju ke arahku. Cukup kencang, hingga sebagian atap selasar yang berada tepat di belakangku tersibak dari tiang besinya. Lalu ada semacam pusaran angin kecil berputar mengelilingiku. Bentuknya mirip tornado, tapi terlalu kecil untuk disebut sebagai topan atau puting beliung yang dapat memporakporandakan suatu kawasan. Saking kecilnya, hingga aku bisa memainkan dan mengarahkannya untuk berputar, lalu berporos di telapak tangan kananku. Awalnya mengasyikkan. Serasa mempunyai mainan baru. Tapi lama-lama telapak tanganku terasa sakit sekali, persis di ujung poros angin itu. Seakan menghujam bagai paku. Berat sekali, hingga badanku ikut terbungkuk menahannya. Aku tak sanggup lagi. Aku pun segera menutupkan telapak tangan kiriku ke atasnya. Berharap angin itu menyebar, buyar, tak lagi berputar di telapak tangan kananku. Toh hanya angin ini.

Ternyata apa yang kudapat. Ada benda kecil yang menyerupai tutup gelas terbalik di telapak tanganku. Pikirku, bagaimana mungkin angin itu berubah menjadi benda solid. Tunggu dulu, ini bukan benda biasa. Ada instrumen-instrumen kecil di setiap bagian sisinya. Ada juga komponen microchip di bagian tengahnya. Barang apa pula ini?

“Itu adalah instrumen pendeteksi cuaca, kelembaban, dan pergerakan angin”, kata seseorang yang tiba-tiba muncul berjalan ke arahku. “Sore Prof…”, sapaku otomatis walaupun sebenarnya aku tidak tahu betul siapa dia. Asumsiku pada saat itu, dia adalah seorang profesor. Perawakannya tinggi, rambut cepak, berkulit gelap, dan badannya tegap. Mengingatkanku pada figur ini.

FIGURE-002528

Tanpa ba bi bu, aku langsung melayangkan beberapa pertanyaan terkait benda aneh yang kupegang. “Apa nama alat ini Prof?”. “Bagaimana bisa alat ini bisa berubah wujud menjadi angin dan ikut terbawa arusnya?”. “Bagaimana instrumen-instrumen kecil ini bekerja?”. Dan sejumlah pertanyaan lain yang pada intinya adalah aku sangat ingin tahu semua terkait benda aneh yang baru kulihat ini.

Dengan santainya sang profesor menjawab,

“If you’re asking too many questions, that means you don’t understand at all.”