Kok Ga Ada Baju Koko di Citayam Fashion Week?


Bismillah..

Bonge adalah anak muda umur belasan yang kini jadi sorotan banyak orang dan (mungkin) jadi idola teman-teman sebayanya. Gayanya cukup nyentrik. Rambutnya lurus gondrong menutup sebelah mata, yang kalau dikibaskan, sapuannya sungguh kece badai dan membuat siapapun yang melihat pasti tersenyum. Asli, serius.

Sesekali Bonge juga mengenakan topi motif kotak-kotak yang entah memang sengaja dipasang miring atau bagaimana. Kadang dia pakai jaket kedodoran. Kadang juga bercelana bolong-bolong ga simetris. Anting, gelang warna-warni rumbai-rumbai, syal motor yang ga tau apa fungsinya, juga sneakers khas anak muda yang rata-rata orang mengenalnya dengan merk Conv*rse.

Kalau dilihat-lihat, gaya berpakaiannya si Bonge ini mengingatkan saya pada fesyen ala-ala Harajuku, style berpakaian anak-anak muda Jepang yang bersifat multikultur, berkesan bebas berekspresi, dan tidak ada pakem. Style ini sempat booming di era 90an akhir. Mungkin seiring dengan berkembangnya game-game buatan Jepang, seperti Final Fantasy yang memang membawa tema fesyen serupa. Hanya saja, yang lagi kekinian di sini ini made in lokal. Bedanya apa? Kalau di Jepang lebih menonjolkan multikulturnya. Bahkan sampai ada genre-nya masing-masing. Ada yang ber-genre gothic, ada decora, ada cosplay, ada lolita, ada pula yang bergaya menggunakan seragam anak sekolahan, biasa disebut ko-gyaru. Sedangkan kalau di sini, sepertinya gaya mereka ini, menurut saya, lebih cocok disebut gaya kasual jalanan. Model tabrak sana sini, motif saling silang, warna anti matching. Tapi tidak seliar gaya Harajuku. Masih ada nuansa jalanan khas Indonesia. Bau sangitnya itu kelihatan. Bau yang berasal dari paparan matahari tropis dan tempelan debu-debu polusi ibu kota.

Ada lagi, cewek, namanya Kurma. Dia ini ceritanya adalah crush-nya si Bonge. Penampilannya juga mungkin 11 12 dengan Bonge. Bahkan mungkin lebih ala kadarnya. Kaos oblong, kadang lengan panjang, kadang lengan pendek. Ketawa-ketiwi kalau ada yang ngajak ngobrol. Sering dikisahkan kalau dia ini ada “main” dengan Wahyu (sopo maneh iki??), yang katanya cuman sebagai abang-abangan aja. Pokoknya gitu lah.. entah gimana ceritanya, kok saya menangkap kesan bahwa kisah mereka berdua ini sepertinya hanyalah sandiwara. Sandiwara yang sengaja dimanfaatkan oleh para penunggang popularitas sesaat, yang mata uangnya adalah Likes, Views, dan Followers.

Oke… jadi begini. Cerita di atas itu beneran. Anak-anak muda seperti Bonge, Kurma, Wahyu, Jeje, Roy, dan lain-lainnya ini memang sedang viral di jagat maya karena meramaikan kawasan SCBD (Sudirman Central Business District), Jakarta dengan aksi nongkrongnya yang ga biasa. Mungkin lebih mirip acara fashion show in real life kali ya. Puluhan, bahkan ratusan (atau mungkin ribuan ya? ada yang punya datanya?) anak-anak muda dari kawasan Jakarta dan sekelilingnya ini seolah-olah punya frekuensi yang sama. Mereka punya naluri yang sejalan untuk menikmati hidup ala mereka. Berbaur, berinteraksi, ada yang malu, ada juga yang malu-maluin. Bebas, merdeka, biarpun norak ga ada urusan, pokoknya having fun lah. Malahan ada yang menjadikan zebra cross sebagai panggung catwalk-nya. Hingga tak sedikit orang yang penasaran, seseru apa sih suasananya?

Nah, cukup. Kita tidak akan melanjutkan pembahasan terkait bagaimana keseruannya. Kalau mau kepo, silakan, bisa dicari. Di saluran berita online manapun sepertinya sedang membahasnya. Kalau mau langsung ke TKP juga monggo. Sudah banyak kok sarana transportasi umum yang menuju lokasi. Sebut saja kereta KRL, busway, atau MRT. Hayo ngaku siapa yang belum pernah naik MRT? Hehe.. B aja sih. Ga perlu jadi kebanggaan khusus. Bangga itu kalau sudah bisa menghajikan orangtua. 😭😭

Kembali ke laptop. Yang mau saya korek-korek di sini adalah terkait respon sosial di masyarakat. Atau bagaimana dari sisi agama melihatnya. Negara kita ini suka begitu kan. Dikit-dikit dibilang tidak sesuai pancasila dan kearifan budaya bangsa. Dikit-dikit tidak sesuai sunnah dan tuntunan agama. Dikit-dikit menghujat, mencela, memampus-mampuskan, mengkafir-kafirkan. Dikit-dikit.. tapi kok banyak, tapi kok sering. Ah, luar biasa memang negeri ini, tiba-tiba saya cinta Indonesia dengan segala keunikannya.

Kalau dicermati, cerita Bonge dan kawan-kawan ini membuat melek sebagian orang. Bahwa ternyata ada gap yang ga banyak orang tau kalau generasi seumuran mereka ini ternyata cukup unik. Coba ya kita jlentrehkan satu-satu:

  1. Yang pertama, mereka ini berada di luar radar sandiwara perseteruan antara cebong dan kadrun. Come on.. pliss yagesya. Sudahlah move on atuh. Ada berita tentang musibah larinya ke politik. Ada kabar tentang pertandingan bola, ujung-ujungnya Anies vs Jokowi. Bahkan ada yang ga penting macam Bonge dan kawan-kawan ini juga masiiih saja dikait-kaitkan dengan politik. Percaya ga kalau anak-anak seumuran mereka ini aslinya sama sekali ga peduli dengan apa yang kalian omongin loh. Sudah tau kan plesetan dari SCBD = Sudirman Citayam Bojonggede Depok. Artinya mereka ini mainnya sudah lintas provinsi. Tapi belum tentu mereka aware soal politik. Ketika ada yang mewawancara mereka, “siapa gubernur kalian?“, mereka pun menjawab dengan bingung, “Anies apa Ridwan Kamil sih?“. Temen sebelahnya yang ditanyain pun hanya cengengesan. Dari sini saja sudah dapat ditarik kesimpulan, jangan-jangan mereka ini lebih dewasa daripada kalian yang ngakunya sudah berumur tapi kelakuan pengecut. Hanya bermodal jari tapi bikin saudara sendiri emosi.
  2. blog andik taufiq citayam scbd

    blog andik taufiq citayam scbd

  3. Yang kedua, banyak yang bilang kalau mereka ini adalah stereotip cerminan kualitas pendidikan kita yang rendah. “Lha kok gitu?“. “Ya lihat saja, waktunya lebih banyak dipake buat nongki-nongki ga jelas kayak gitu. Kalau sibuk sekolah kan mustinya banyak tugas, banyak PR, belajar. Ga males-malesan seperti itu. Mau jadi apa mereka ini kalau sudah dewasa?“. Hmm.. OK. Untuk hal ini coba kita tarik dulu benang merahnya. Kalau kita fokusnya menyalahkan mereka atas budaya “kemalasan”, coba deh lihat, kira-kira penyelenggaraan pendidikan di negara ini sudah oke apa belum? Best practice-nya saja deh, tiap kali pendaftaran sekolah anak, yang jadi syarat pertama yang harus dibayarkan adalah uang gedung. Dan itu sudah bukan rahasia umum lagi kalau nominalnya rata-rata mahal sekali. Apa iya seluruh masyarakat menengah ke bawah pada sanggup? Apalagi sekarang sedang digempur habis-habisan oleh anjloknya daya beli. Sedangkan sampai saat ini pun kita tidak tahu apa hubungannya uang gedung dengan pendidikan? Apa ga baiknya diganti saja dengan uang pengajar? Karena sejatinya pengajar lah garda terdepan yang membantu anak-anak kita menumbuhkan potensi dirinya.
  4. Lalu, kalau kita tarik lagi, ok lah kritik untuk kebijakan negara memang ada porsinya, dan memang sudah sewajarnya kita turut melakukan kritik yang membangun. Yang jadi pertanyaan adalah apakah orang-orang yang menyinyiri Bonge dan kawan-kawan itu pernah menjadi pengajar? Jadi guru, dosen, tutor, guru ngaji, pembimbing les privat, atau apapun lah itu namanya. Saya pribadi hampir yakin, bahwa yang berkomentar negatif seperti itu belum atau tidak pernah merasakan jadi pengajar. Karena seorang pengajar (yang bener) rasa-rasanya ga akan pernah menyinyiri anak didiknya sendiri. Apalagi sampai melabeli mereka sebagai generasi micin.

    blog andik taufiq citayam scbd

    blog andik taufiq citayam scbd

  5. Yang berikutnya, nampaknya tidak sedikit pula yang melihat Citayam Fashion Week ini dari kacamata islam. Mulai dari cara pergaulan yang menimbulkan ikhtilath antara laki-laki dan perempuan. Ada juga yang membahas dari sisi bagaimana kelakuan anak-anak itu dalam menyia-nyiakan waktu untuk hal yang kurang bermanfaat. Dan ada juga yang paling banyak disoroti, yaitu terkait cara berpakaian mereka. Saya pribadi no debat terkait hal ini. Karena sampai saat ini masih terpantau aman. Pandangan dan tulisan saudara-saudara kita yang melihat dari kacamata islam, sejauh yang saya cari tidak ada yang menghujat ataupun nge-judge berlebihan tanpa dasar. Bagus-bagus kok. Keren. Alhamdulillah. Palingan ada beberapa komentar saja yang “ya begitulah”.
  6. Menyoal fesyen, ini menarik. Baik yang memandang dari sisi budaya, maupun dari sisi islam, keduanya sama-sama ga oke terhadap style mereka ini. Saya paham sih, orang-orang yang ngakunya milenial padahal kolonial seperti saya ini pasti akan cenderung ga nyaman dengan gaya norak seperti itu. Dari sudut pandang aurat sudah jelas ga comply. Dari segi adab ketimuran juga ga masuk. Apalagi kalau dipake buat ketemu calon mertua. Percayalah, urungkan niatmu Ferguso.

    Tapi yang kita mau itu sebenarnya apa sih? Anak-anak muda itu perlu aktualisasi diri. Dan yang pasti dilihat pertama kali sebagai kiblat adalah yang rame, yang kekinian, yang bikin ngetop, terkenal, dan viral. Bagi yang merasa sudah tidak muda lagi, cobalah sesekali nengok ke belakang. Bagaimana kita dulu ketika masih seumuran mereka. Sama saja? Atau jangan-jangan lebih parah. Wkwkwk. Bagi yang merasa masih cukup muda, dibaca boleh, diskip juga gpp. Udah sepanjang ini masa disuruh skip. Haha..

    Ok lanjut. Jadi yang kita mau dari mereka itu apa? Mereka nurut mengikuti kita sebagai panutan? Bisa bisa. Tapi apa yang dipanuti? Kalau mau mereka memakai baju koko sebagai style keseharian ya mustinya kita dulu dong yang nyontohin. Baju muslim bagus-bagus jangan hanya dipakai saat sholat ied dan lebaran saja. Hiasi masjid-masjid melalui sholat lima waktu dengan style terbaik kita. Ya masa ke kantor aja rapih bener, tapi begitu sholat penampilan kita ala kadarnya. Itu pun kalau sholatnya berjamaah di masjid. Katanya cinta kepada Allah dan RasulNya, tapi kan, tapi kan.

    Jangan-jangan.. yang dilihat dari masjid oleh orang-orang selama ini hanyalah tempat yang sepi, tempat yang ga boleh berisik, enak buat tidur tapi dilarang tidur, ada beberapa sarung dan mukena yang bau dan berjamur, karpet yang entah kapan terakhir kali dicuci, juga ada kotak infaq di pojokan yang modelnya ya begitu-begitu saja sejak zaman cabe masih manis. Generasi sekarang ini kalau saya lihat lebih menuntut cara-cara yang kreatif. Out of the box. Yang penting tetap dalam batas rambu-rambu yang diperbolehkan secara syariat. Misal, kalau kita kesulitan mengajak anak-anak muda ke masjid, ya masjidnya bawa saja ke mereka. Inilah yang dilakukan oleh temen-temen dari Real Masjid 2.0.

    Atau kalau kita kesulitan mengajak mereka ngaji Al-Quran, ya bawa saja Al-Quran itu ke hadapan mereka. Install aplikasi di hape-hape mereka. Baru bisa diajakin ngaji walaupun awalnya tipis-tipis. Ini yang dilakukan oleh temen-temen dari QuranBest.

    blog andik taufiq citayam scbd

    Atau.. kalau mereka malas datang ke kajian, ya sodorin aja kajian online yang dikemas dengan format kekinian dan pendekatan yang asyik ke medsos-medsos mereka. Ini yang dilakukan oleh saudara-saudara kita dari QuranReview.

    Poinnya adalah.. di era zamannaw ini, ayolah.. kita sama-sama bergerak. Berjamaah, berkolaborasi, saling mengisi. Sudahlah, cukupkan kebencian-kebencian berbau politik dan SARA hanya sampai diri kita. Anak-anak muda generasi sekarang bahkan ga peduli siapa yang bakal menang pemilu. Sampai kapan kita egois? Yang bisanya cuman nyalah-nyalahin doang tanpa merasa ikut bertanggung-jawab atas keberlanjutan evolusi dakwah ke generasi berikutnya. Sampai kapan masing-masing kita jadi pengecut yang galak di balik akun-akun medsos, tapi nyumput ketika terekspos.

    Hingga saat ini, saya masih percaya bahwa surga bukanlah tempatnya orang-orang egois yang hanya mencari keselamatan atas dirinya sendiri.

Terakhir, seperti yang dikutip dalam Surat Al Hadid ayat 20, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Jadi, santai aja. Anak-anak kita itu sedang mencari jati dirinya. Doakan yang terbaik buat mereka. Kenalkan mereka pada agama sesuai zamannya. Ada masanya juga kita berganti generasi. Yang tua mati, yang muda lahir kembali. Patah tumbuh hilang berganti. Sayang kalau hanya digunakan untuk saling benci, menghujat, dan mencaci. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama dan ingat kepada siapa dia akan kembali.

Wassalam.. semoga harimu menyenangkan.


Referensi:
rukita.co
megapolitan.kompas.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.