Bismillah…
Pada setiap kajian yang membahas kebutuhan hidup dasar manusia, biasanya kita tidak terlepas dari tiga (3) kebutuhan pokok, yaitu Sandang, Pangan, dan Papan. Tapi sebenarnya banyak yang tidak menyadari kalau ketiga hal tersebut seyogyanya dipandang sebagai sebuah keterurutan kebutuhan. Ketiganya tidak sejajar. Ada rantai prioritas. Jangan dibolak-balik. Karena kalau dibalik akan jadi seperti ini:
uɐdɐd-uɐƃuɐd-ƃuɐpuɐs
Becanda-becanda. Hehe…
Maksudnya, urut-urutan prioritasnya akan selalu dimulai dari Sandang, kemudian Pangan, lalu Papan. Tidak bisa tidak. Mengapa demikian? Timbul pertanyaan.
Sandang-Pangan-Papan
Kalau urut-urutannya seperti di atas, itu memang sudah pasti. Sudah sewajarnya begitu. Skip>>
Papan-Sandang-Pangan
Sandang mewakili pakaian, rasa malu, bagian dari kehormatan, dan segala sesuatu yang menutupi aib. Sementara Papan merepresentasikan rumah, tempat bernaung, kedudukan, jabatan, tahta, serta tingkat status sosial di masyarakat. Dan Pangan adalah segala apa yang dimakan, dikonsumsi, juga berarti setiap aspek duniawi yang digenggam, dirasakan, dan dinikmati oleh aliran darah di tubuh. Kalau urut-urutannya seperti di atas, itu namanya gengsi. Yang penting apa yang terlihat oleh orang lain didahulukan. Sementara untuk diri sendiri dan keluarga tidak begitu dipentingkan. Tidak peduli apakah yang dihasilkan lebih kecil daripada apa yang diperlihatkan. Nyicil sana nyicil sini. Hutang sana hutang sini.
Papan-Pangan-Sandang
Kalau urut-urutannya seperti ini, itu namanya ambisi. Satu tingkat di atas gengsi. Kehormatan diri diletakkan di bawah naungan perut.
Pangan-Sandang-Papan
Kalau urut-urutannya seperti ini, itu namanya crazy alias gila. Biasanya orang gila itu tidak pakai baju. Kalaupun pakai baju, biasanya tidak punya tempat tinggal. Tapi makan jalan terus. Karena yang dipikirkan cuman makan, makan, dan makan.
Pangan-Papan-Sandang
Kalau urut-urutannya seperti ini, itu namanya korupsi. Yang ini lebih parah. Segala cara digunakan agar bisa makan segalanya, pangkat melejit ke singgasana, namun lupa, tidak peduli akan rasa malu yang ada di dada.
Sudah, begitu saja.
#mikir
Bagus.
LikeLiked by 1 person
Makasih Om 🙂
LikeLiked by 1 person
Sippp…sangat sesuai dengan keadaan
LikeLiked by 1 person
Siyap..
LikeLike
kudu diiget terus, biar ngga khilaf terus jadi kebolak balik…
suwun Mas, sharingnya…
LikeLiked by 1 person
Hu uh. Kadang memang suka lupa. Apa sebenarnya yang kita raih itu. Buat “makan” sampe lupa caranya berhenti. Lupa “kenyang”. 😦
LikeLiked by 2 people
nemu aja kak yang beginian hihi
LikeLiked by 1 person
Yang penting bisa update postingan. 😁
Dari kemarin2 agak susah nemu topik buat ditulis. Kalaupun ada bahannya belum mencukupi. Jadilah postingan yang remah-remah ini. 😁
LikeLike
Lumayan dapat ilmu. Terima kasih mas. Bermanfaat sekali bagi saya.
LikeLiked by 1 person
Sama2 mas Shiqa.. semoga berkah buat kita semua.
LikeLiked by 1 person
Amiin.
LikeLiked by 1 person
Hahsha benar juga
LikeLiked by 1 person
Joss 👌
LikeLike
Bagus mas, jadi mikir 😎
LikeLiked by 1 person
Marmik mari mikir 😎
LikeLike
Betul ya ada urutannya ternyata.. terbaik 👍👍
LikeLiked by 1 person
Sip
LikeLiked by 1 person
kalau menurutku, Hidup itu tentang bersyukur.
Jika bersyukur, sandang, pangan, dan papan yang kita nikmati saat ini akan terasa sempurna.
kalau ngikuti gensi, wah bisa gila kita yakan mas,. hehe
LikeLiked by 1 person
Betul. 100% sepakat… utamanya bersyukur. Kalau tanpa bersyukur, sebesar apapun yang kita dapat tidak akan berasa nikmat.
LikeLiked by 1 person