Sandang Pangan Papan


Bismillah

Pada setiap kajian yang membahas kebutuhan hidup dasar manusia, biasanya kita tidak terlepas dari tiga (3) kebutuhan pokok, yaitu Sandang, Pangan, dan Papan. Tapi sebenarnya banyak yang tidak menyadari kalau ketiga hal tersebut seyogyanya dipandang sebagai sebuah keterurutan kebutuhan. Ketiganya tidak sejajar. Ada rantai prioritas. Jangan dibolak-balik. Karena kalau dibalik akan jadi seperti ini:

uɐdɐd-uɐƃuɐd-ƃuɐpuɐs

Becanda-becanda. Hehe

Maksudnya, urut-urutan prioritasnya akan selalu dimulai dari Sandang, kemudian Pangan, lalu Papan. Tidak bisa tidak. Mengapa demikian? Timbul pertanyaan.

Sandang-Pangan-Papan

Kalau urut-urutannya seperti di atas, itu memang sudah pasti. Sudah sewajarnya begitu. Skip>>

Papan-Sandang-Pangan

Sandang mewakili pakaian, rasa malu, bagian dari kehormatan, dan segala sesuatu yang menutupi aib. Sementara Papan merepresentasikan rumah, tempat bernaung, kedudukan, jabatan, tahta, serta tingkat status sosial di masyarakat. Dan Pangan adalah segala apa yang dimakan, dikonsumsi, juga berarti setiap aspek duniawi yang digenggam, dirasakan, dan dinikmati oleh aliran darah di tubuh. Kalau urut-urutannya seperti di atas, itu namanya gengsi. Yang penting apa yang terlihat oleh orang lain didahulukan. Sementara untuk diri sendiri dan keluarga tidak begitu dipentingkan. Tidak peduli apakah yang dihasilkan lebih kecil daripada apa yang diperlihatkan. Nyicil sana nyicil sini. Hutang sana hutang sini.

Papan-Pangan-Sandang

Kalau urut-urutannya seperti ini, itu namanya ambisi. Satu tingkat di atas gengsi. Kehormatan diri diletakkan di bawah naungan perut.

Pangan-Sandang-Papan

Kalau urut-urutannya seperti ini, itu namanya crazy alias gila. Biasanya orang gila itu tidak pakai baju. Kalaupun pakai baju, biasanya tidak punya tempat tinggal. Tapi makan jalan terus. Karena yang dipikirkan cuman makan, makan, dan makan.

Pangan-Papan-Sandang

Kalau urut-urutannya seperti ini, itu namanya korupsi. Yang ini lebih parah. Segala cara digunakan agar bisa makan segalanya, pangkat melejit ke singgasana, namun lupa, tidak peduli akan rasa malu yang ada di dada.

Sudah, begitu saja.

#mikir

sandang-pangan-papan

Advertisements

19 thoughts on “Sandang Pangan Papan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s