sebab akibat sunnatullah

Sebab Akibat


Bismillah

Berpikir logis mengenai sebab dan akibat memang fitrah kok. Karena hal itu merupakan salah satu rahmat Allah kepada makhlukNya yang bernama manusia. Sebab akibat sendiri juga termasuk ke dalam sunnatullah yang terikat pada hukum Maha Besar yang sama, yang menaungi seluruh alam semesta dan seisinya.

Adanya kejadian yang menurut logika kita mustahil bukan berarti kejadian tersebut menyalahi sunnatullah. Tapi ilmu dan pengetahuan kita saja yang sebenarnya tidak sanggup menjangkaunya. Karena Allah belum atau tidak mengizinkan kita untuk mengerti. Ya, tidak apa-apa. Toh tidak semua yang ada di jagat raya ini perlu kita mengerti. Pun tidak semua isu perlu kita kepoin kan. Justru sebagiannya, dan mungkin sebagian besarnya, adalah sunnatullah yang hanya perlu kita imani. Hanya perlu kita letakkan pada porsinya. Porsi sebagai hamba yang bukan siapa-siapa tanpa kasih sayangNya.

Adanya kasus-kasus spesial seperti tongkatnya Musa yang sanggup membelah lautan. Atau dinginnya api yang membakar kulit Ibrahim. Bahkan sebagaimana Isa menghidupkan yang mati. Itu sunnatullah khusus yang bernama mu’jizat, yang hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihanNya dan mutlak hanya bisa kita imani saja. Bagaimana tidak, lha wong kebenaran kisahnya saja belum tentu semua orang percaya. Apalagi penjelasan tentang sebab akibatnya dibalik mu’jizat-mu’jizat itu.

Bagaimanapun, sunnatullah sebab akibat itu ada. Bersifat ideal, adil, dan ketetapanNya proporsional. Al mitsaaliyah wal waqi’iyyah. Karena itulah selalu ada penyeimbang atau balasan di setiap perbuatan. Baik ataupun buruk. Al tsawab wa al ‘iqab. Besar ataupun kecil. Sekecil biji dzarrah sekalipun. Berlaku menyeluruh sepanjang masa, syaamil. Dan sempurna, sesempurna keMahaanNya dalam menciptakan alam semesta, kaamil. Maka, pantaskah kita remehkan diri ini untuk abai atas dosa-dosa kecil ataupun dosa-dosa pribadi yang sering kita lakukan? Astaghfirullah.. sungguh tidak ada yang luput dari pengawasan Allah.

Sehingga, jika ada kejadian yang menurut perasaan kita ga enak, ga nyaman, sedih, stress, ingin marah, tidak terima. “Mengapa terjadi padaku?“, “Kenapa kok orang lain begitu mudah hidupnya, sementara aku susah payah harus begini begitu?“, “Ini tidak adil dan tak masuk akal.“. Atau ungkapan-ungkapan lain yang bersifat what if: “Kalau presidennya bukan si anu, mungkin negeri ini lebih baik.“, “Seandainya Ustadz itu bukan orang kaya, apa ya mau istrinya dipoligami.“, serta pengandaian-pengandaian lain yang sebenarnya sungguh tidak perlu kita ungkapkan. Sebagaimana orang-orang berilmu pernah sampaikan, bahwa ibrah itu bagian dari kasih sayang Allah. KetetapanNya tidak pernah salah alamat. KeadilanNya pun mutlak. Takdir itu sungguh benar-benar benar adanya. Qaddarullah itu pas. Berandai-andai dalamnya hanya membuat kita panjang angan dan sia-sia.

Batas antara yang haq dan yang bathil itu sudah jelas. Pun tidak akan bercampur keduanya. Untuk mencapai yang ma’ruf, tidak akan pernah bisa didapatkan melalui cara yang munkar. Pun sebaliknya. Karena keduanya mempunyai hubungan tersebab kemudian berakibat. Jika belum bisa mencari korelasinya. Mari kita sama-sama muhasabah. Apakah kita sudah merasa cukup beradab hingga pantas mendapat ilmu dariNya? Apakah kita sudah merasa cukup beriman hingga diizinkan untuk memahami kalamNya? Apakah kita sudah merasa cukup berilmu hingga disanggupkan beramal sholeh olehNya? Tidakkah kita berkaca bagaimana dunia ditundukkan kepada orang-orang terbaik yang senantiasa tunduk patuh dan cinta pada Rabbnya serta RasulNya. Menjadi kaya itu sebuah keniscayaan. Menjadi berkuasa itu bukan kemustahilan. Menjadi bahagia juga bukan hanya impian. Itu semua sudah sunnatullah. Tidak lepas dari sebab akibat hukum Allah. Hanya saja, sudahkah kita mencukupkan diri untuk pantas diberi amanah olehNya?

Semoga menjadi pengingat, khususnya bagi diri ini yang seringkali sombong. Tahu sedikit sudah merasa jagoan. Ngerti sedikit sudah merasa punya kadigdayan. Paham sedikit sudah merasa paling beriman. AstaghfirullahRabbana laa tuzigh qulubana ba’da idz-hadaitana wa hablana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab.

2 thoughts on “Sebab Akibat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.