letupan kecil hidup itu saling memberi teduh bukan saling tuduh agar tidak gaduh

Letupan Kecil


Bismillah

Letupan kecil itu kembali terjadi. Sungguh menjadi pemandangan yang tak elok dilihat segenap umat negeri ini yang sedang hangat-hangatnya menyeruput secangkir euforia kegembiraan atas rasa persaudaraan yang kembali merekat dengan adanya aksi bela Islam, bela NKRI. Kini mulai terusik lagi dengan peristiwa pengusiran narasumber sebuah majelis ilmu oleh sekelompok unit pengamanan yang berlabel, atau melabelkan dirinya, organisasi keagamaan terbesar di negeri ini.

Bukan perihal benar dan salah. Bukan pula persoalan siapa yang lebih berhak atas titel ahlussunah wal jamaah. Tapi ini lebih ke masalah rasa malu yang diakibatkan oleh perpaduan yang klop antara isu kebencian yang ditelan bulat-bulat dan kurangnya adab dalam berilmu. Memang, setiap kejadian tidak lepas dari takdir Allah. Sebagaimana takdirnya perseteruan ini yang bibit-bibitnya telah nyata tersemai dari zaman kolonial dulu. Juga pertikaian-pertikaian senada yang sebenarnya pokok permasalahannya hanya terpaut di antara angka 11 dan 12.

Rupanya bangsa ini memang sedikit bebal. Mungkin bukan 100% salahnya ibu pertiwi karena kurang pandai dalam mendidik. Tapi memang anak-anaknya ini yang kadang terlalu kreatif. Fasilitas yang ada begitu komplit. It’s given from the God. Perangainya juga sangat ramah. Terkhusus bagi tamu yang berkunjung. Entah berkunjung dalam rangka pelesir, berdagang, atau sekadar memuaskan hasrat untuk memiliki secara lebih. Tidak perlu heran. Karena ibu pertiwi memanglah sangat cantik. Juga penyayang. Bayangkan, secuil tanah sundanya saja, dikiaskan sebagai ciptaan Tuhan ketika Dia sedang tersenyum. Kesejukan senyuman itu terpancar melalui kasih sayang yang tak ternilai harganya hingga kini. Saking sayangnya, anak-anak eker-ekeran sendiri. Tidak pernah dimarahi. Tidak pernah disuruh menggugu.

Jangan dikira eker-ekerannya anak-anak ini hanya senda gurau biasa. Lebih dari itu, mereka sejatinya sedang memperebutkan makanan yang seharusnya dibagi rata oleh sebagian anak yang dituakan. Namun justru yang terjadi adalah anak-anak yang dituakan ini kebanyakan tidak tahu kalau mereka dituakan. Atau tidak mengerti tentang ilmunya orang-orang yang dituakan. Laiknya tanah yang subur gemah ripah loh jinawi tapi hanya ditumbuhi rumput dan semak belukar. Karena memang tidak mengerti bagaimana caranya mencangkul, menanam, dan memanen. Begitu liar. Beraneka ragam jenisnya. Kemrungsung. Tempat di mana kotoran makhluk melata bercampur bawur dengan pengurainya. Tempat di mana sang pemangsa dan yang dimangsa hanya dipisahkan oleh selembar daun kering. Lagi-lagi tidak perlu heran. Komposisi inilah yang menjadi komoditas utama demokrasi. Rumput dan perdu akan selalu jauh lebih banyak daripada pohon. Parasit pun bisa berkembang lebih pesat dibanding tanaman produktif. Jangan ditanya seberapa besar dan tingginya pohon-pohon kapitalis buah hasil demokrasi ini. Mungkin hanya kekuatan petir lah yang sanggup merobohkannya.

Orang seberang bilang, banyak jalan menuju Roma. Semua hal di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika Dia berkehendak. Walaupun pada dasarnya tidak pantas ada kata ‘jika’ untuk disematkan pada kemutlakan kuasaNya. Bagaimanapun juga Dia selalu berkehendak. Apalagi permasalahan yang sedangkal ini. Dangkal bagi Dia. Hanya saja sunnahnya kita disuruh untuk ikhtiar terlebih dahulu. Berlelah-lelah. Berusaha hidup-hidupan. Tentu saja tetap di dalam koridor iman dan taqwa agar Sang Kekasih tidak murka.

Tanpa teori parenting apapun. Tanpa teori pendidikan dari mana pun. Jauh-jauh hari ibu pertiwi sudah bertutur, “Nak.. kalau sudah selesai mainnya, duduk dulu!”. Mandheg jegrek, lungguh bareng. Benar-benar berhenti, duduk bersama. Kalau sudah bisa duduk bareng, kopi pahit akan terasa enak, singkong gosong pun akan terasa nikmat. Tidak perlu ada lagi eker-ekeran. Apalagi hanya terkait masalah mana yang benar, sesudah makan langsung minum, atau sesudah makan ngobrol dulu. Semuanya melebur indah menjadi satu dalam wadah forum yang besar. Guyub. Saiyeg saeka kapti. Ndilalah kemudian muncul fatwa kalau ternyata sesudah makan itu boleh buang hajat. Sontak ngikik bareng. Itulah sejatinya bahasa akar rumput. Lugas. Minim unsur balaghah.

Dengan begini sudah bisa sedikit dipikir. Berhadap-hadapan secara langsung saja belum pernah, kok sudah menyatakan diri sebagai musuh. Itu kan aneh. Pantas saja negeri ini selalu gaduh. Karena tidak ada yang mau mengalah untuk saling memberi teduh. Malah banyak yang saling tuduh. Mbok yao saling menyadarkan untuk lungguh. Tapi pertanyaannya, siapa yang pantas untuk ditugaskan mendudukkan kita semuanya ini?

#mikir

letupan kecil hidup itu saling memberi teduh bukan saling tuduh agar tidak gaduh

Advertisements

35 thoughts on “Letupan Kecil

  1. Aku beberapa hari lalu ketemu seorang guru dari London. Pas awal ngomong terkesan rodo kasar bagi yang tersinggung πŸ˜€ (aku nggak tersinggung). Dia berkata, Indonesia adalah negara yang terisolasi oleh orang-orangnya, orang-orang Indonesia tidak mau berubah, akhirnya mengandalkan orang-orang yang mau membuka pikiran, untuk keluar melihat dunia luar, namun mereka harus kembali, jika tidak kembali, Indonesia akan tetap terisolasi… I have thought that he is absolutely right….

    Liked by 2 people

  2. Cinta sih ga bgtu ngikutin perkembangan politik mas. Cuma bs ikut mndoakan agar Indonesia tetap baik-baik saja, aamiin. πŸ˜‡.

    Tp kl utk kalimat terakhir yg dicetak tebl itu, kl mau sdkit mengoreksi nih ya mas. Kadang2 org yg suka nasehatin bikin teduh tanpa sadar mmbuat rusuh dan cari musuh. Kalo sudah bgni, gmn solusinya ya mas? *mohon pencerahannya, pikiran Cinta kdg msh dangkal, heee πŸ˜…

    Like

    1. Urusan hati mah ga ada urusannya dgn org lain. Kecewa, marah, sakit hati itu hanya urusan ekspektasi. Orang lain tdk bs dan tdk berhak untuk diatur. Hanya hati sendiri yg bs ditata.

      Like

  3. Semua orang memang harus lebih bijak ya mas.. masalahnya ngga semua orang awam itu ngerti ilmu. dipancing dikit, langsung kebakar hehe. mudah2an orang2 yg lebih beradab bisa menularkan adabnya juga ke orang2 di sekitarnya

    Liked by 2 people

    1. Sepakat mas Anggik. Bahasa akar rumput kalo istilah saya. Saling mengingatkan pentingnya adab itu sendiri merupakan suatu hal yang sangat penting menurut saya. Itulah mengapa ada adab sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab berbahaya.

      Liked by 1 person

      1. iya mas, tapi karena dirumah ku ada perbedaan keyakinan… kadang orangtua nanya, kok sesama muslim aja bisa begitu ya…
        jadi sedih dan malu, mas…
        semoga kita semua makin memperbaiki diri ya mas πŸ™‚ suwun postingannya mas

        Liked by 1 person

  4. Saya pribadi juga menyesalkan kalau sampai terjadi pengusiran dan menyulut kegaduhan di media massa. Perbedaan seharusnya bisa disikapi dengan dialog, duduk bareng tanpa otot. Masing-masing aliran tentu meyakini punya mereka yang benar tapi tidak perlu mengusik aliran lain. Wong Tuhan dan Nabinya sama, harusnya bisa saling sayang.

    Di Bogor ada sebuah masjid yang menurut saya dikelola dengan baik. Semua harakah disambut. Jamaah tabligh boleh nginep dan tausiah, di kesempatan lain tokoh dari HTI diundang untuk tausiah, ada imam qunut ya ikut, ga pakai ya gpp.

    Liked by 1 person

  5. Indonesia emang lagi panas-panasnya. aku juga kadang ikut ikufan gerah tapi enggak mengungkapkan, karena sadar aku kurang ilmu daripada orang orang yang banyak nyapnyap itu, jadi aku milih jadi pendengar yang keki sendiri yang kesel sendiri.
    .
    kapan ademnya ya negeri ini, pak? hahaha

    Liked by 1 person

    1. Menurut saya, biar adem, dimulai dari diri sendiri dulu buat mengademkan hati. Ga semua yang panas-panas musti di-share. Karena kecenderungannya orang itu mudah tersulut, walaupun infonya blm tentu benar. Malah cenderung melebih-lebihkan. Serem lah. Perbanyak istighfar saja Mbak. Astaghfirullah…

      Liked by 1 person

  6. Indonesia sekarang memang lagi krisis persatuan mas… terlalu gampang dipecah belah… hanya karna perbedaan pandangan langsung sikut-sikutan… padahal perbedaan pendapat itu mah biasa… namanya juga otak manusia masing-masing berbeda…

    Liked by 1 person

    1. Begitulah bang. Apalagi di tataran rumput. Gampang sekali tersulut. Mungkin benar bahwa informasi itu tidak harus semua orang tau. Cukup sampai maqomnya masing-masing saja. Karena kalau ga sesuai, ga masuk di nalar. Ketika ga masuk di nalar, jadilah situasi yang panas yang mengakibatkan sikut-sikutan. Tapi mau bagaimana, media sosial sama sekali ga ada filternya.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s