review sepeda london taxi

Review Sepeda London Taxi


Bismillah

Alhamdulillah setelah sekian lama blog ini penuh debu dan usang, akhirnya kali ini saya diizinkan atas keluangan waktu oleh Allah untuk mengisinya kembali. Dan sudah dapat ditebak bahwa alasannya memang super standar ultra klasik. Sekitar beberapa bulan yang lalu dan mungkin sampai beberapa bulan ke depan saya diberi beberapa amanah yang rasa-rasanya memang perlu diselesaikan dengan usaha yang optimal, konsentrasi yang maksimal, doa yang serial, serta strategi yang membutuhkan tambahan akal.

Sebelum lebih jauh melangkah, izinkan saya terlebih dahulu untuk meminta maaf kepada om Freddy karena kelewat amanahnya untuk mengepos challenge terkait isu “berlian” yang sempat viral itu. Punten ya Fred, bener-bener kelewat dan ga sempat, euy.

OK, postingan perdana di bulan Mei 2017 ini mungkin enaknya membahas yang ringan-ringan dulu kali ya. Walaupun kalau mau jujur sebenarnya ga ada postingan yang benar-benar bermutu di blog ini. Hampir semuanya berupa remah-remah sisa-sisa keseharian saya yang mungkin hanya pantas dijadikan sampah. Ya meskipun dalam hati kecil saya tetap berharap bahwa sampah-sampah saya ini semoga masih bisa di-daur-ulang oleh setiap orang yang membacanya. Atau minimal dapat mengambil manfaat dari setiap proses dekomposisinya. Ah, sudahlah yang penting buanglah sampah pada tempatnya.


London Taxi

Kali ini saya akan melakukan review abal-abal terhadap sebuah sepeda berjenis city bike yang kira-kira sudah saya pakai dalam 2 bulan terakhir ini. Nama brand-nya adalah London Taxione of the core brand with lifestyle and vintage concept. Begitu bunyi tagline yang terpampang nyata di web distributor resminya, Jefferys Indonesia.

review sepeda london taxi

Memang, kalau dilihat secara sepintas, desain-desain sepeda London Taxi ini memiliki kekhasan tersendiri, yaitu mengusung konsep jadul, vintage, atau retro dengan model yang mungkin lebih pas dikatakan mirip dengan sepeda-sepeda kumbang/kebo (ukuran besar), atau jengki (versi mediumnya), atau lebih umum dikenal sebagai onthel.

Terus terang, saya bukanlah penggemar fanatik sepeda klasik. Apalagi kolektor sepeda-sepeda antik dari brand-brand ternama yang kadang harganya pun tidak kalah nyentrik. Tapi, saya cukup terbiasa dengan dunia peronthelan. Mungkin itu yang membuat saya menyukai tipikal sepeda-sepeda berjenis onthel atau onthel alike seperti London Taxi ini. Suka karena terbiasa. Bagaimana tidak terbiasa, lha wong dari dulu ketika saya masih balita, Bapak saya tidak pernah melepaskan sepeda onthel dari aktivitas kesehariannya. Bahkan hingga hari ini pun beliau masih menggunakannya untuk pergi pulang bekerja. Kalau tidak salah pernah saya ceritakan di postingan yang ini. Mohon maaf kalau bahasa inggrisnya pating pecotot. Intinya, bahkan dari sebelum saya lahir pun Bapak sudah sangat mafhum dengan penggunaan sepeda onthel. Semoga beliau senantiasa diberi kesehatan, keselamatan, dan keberkahan hidup dari Allah Subhanahuwata’ala. Aamiin.

Faktor Fungsi

Bicara tentang sepeda London Taxi, tentunya model klasik bukan satu-satunya alasan mengapa saya memilihnya. Karena kalau hanya dari modelnya yang klasik, tentu saya mungkin akan lebih memilih sepeda onthel jadul dengan versi harga yang lebih terjangkau dan sudah jelas-jelas klasik. Tapi, saya lebih melihat dari sisi fungsinya. Terutama di bagian groupset-nya, gear-nya, atau biasa kita sebut sebagai operan gigi untuk istilah awamnya. Tentu saja hal ini turut mempertimbangkan kontur jalanan di sekeliling kota Bandung yang memang naik turun dari sononya. Bisa dibayangkan kalau pakai gear konvensional seperti yang ada pada sepeda-sepeda onthel jadul pada umumnya. Pas turun mungkin terasa mantab. Tapi begitu jalanan nanjak bisa-bisa lutut rontok bagi yang tidak terbiasa bersepeda.

Faktor Desain

Untuk desain, terus terang saya acungi jempol. Sepeda ini desainnya tidak biasa. Lumayan eye-catching.. eh, atau eye-catchy ya? Pokoknya begitulah. Dari beberapa kali pengalaman ketemu orang, biasanya ada saja yang berkomentar dan nanya-nanya: “Sepedanya bagus Mas, beli dimana?“, atau “Wah, unik nih, berapaan harganya Mas?“, dan sederet pertanyaan-pertanyaan serupa ala ala kepo lainnya. Wajar, karena sepeda ini memang kurang (belum) populer, terutama di Bandung dan sekitarnya. FYI, di Jakarta sepertinya sudah ada perkumpulannya. Tapi terus terang saya tidak mengikuti perkembangannya. Karena selain beda kota, saya juga sebenarnya ga terlalu tertarik untuk ikut bergabung perkumpulan-perkumpulan seperti komunitas, club, atau apapun itulah namanya. Lha wong komunitas blogger saja saya ga terlalu ngikuti kok. Bukannya anti-sosial, tapi saya ini memang egois.

Masih terkait faktor desain, lagi-lagi yang namanya desain tidak selalu saya maksudkan sebagai penilaian subjektif yang dinilai berdasarkan mata saja. Namun, terkait juga masalah keergonomisan, kenyamanan penggunaan, dan kesan berkendaranya. Nah, sepeda London Taxi ini punya yang saya butuhkan. Soal ergonomis dan kenyamanan, sepeda ini difasilitasi oleh handle-bar berjenis tourist-bar sehingga posisi tangan relatif santai dan punggung bisa cukup tegak. Tidak terlalu maju atau membungkuk seperti kalau kita naik sepeda berjenis MTB atau sepeda balap. Berdasarkan pengalaman, beberapa kali naik MTB, selalu ada saja masalah sakit punggung atau nyeri bagian pundak. Entah karena memang tidak cocok, atau memang karena faktor usia.

Selain itu, London Taxi membekali dudukan pengendaranya dengan sadel berjenis suspension yang artinya terdapat per atau pegas di bagian bawahnya. Sehingga, cukup nyaman kalau dipakai gowes dalam waktu yang relatif lama. Jarak jauh pun ga masalah. Empuk tur mentul-mentul kalau orang Jawa bilang. FYI, sepeda London Taxi ini sudah pernah saya tes untuk gowes santai, baik jarak pendek ataupun jarak menengah. Hasilnya, cukup nyaman. Saya yang cupu ini alhamdulillah bisa kembali dengan selamat setelah menempuh jarak total terjauh, so far dalam sekali trip sekitar 35-an km. Tapi mohon jangan ditanya berapa kali saya “tepar” dan terpaksa harus menepi dulu. Semoga next trip tidak demikian. Maklum anak bawang.

Untuk urusan kesan berkendara, sepeda ini dibekali dengan velg berukuran cukup besar, tipe 28. Bannya cukup tipis dengan motif atau batikan yang halus sehingga sangat cocok kalau digunakan di jalanan aspal perkotaan. Ditambah warna bannya yang terdiri atas dua warna (two-tones) menambah kesan kental onthelnya.

Faktor Harga

Tentu saja faktor terakhir namun paling menentukan adalah faktor harga. RAPBN tidak akan disetujui oleh ibu negara kalau terlalu mahal dan tidak ramah terhadap devisa. Untungnya, sepeda London Taxi ini harganya cukup terjangkau. Seberapa terjangkau? Silakan browsing saja ya. Ga enak nyebut harga di sini. Tinggal sebut saja keywords “harga london taxi bike”. Atau kalau mau yang lebih spesifik, semua kriteria yang saya jelaskan di atas mengacu pada sepeda London Taxi versi CRB M 700C Green. Kalau kita buka website resminya, ada banyak versinya. Tergantung model, ukuran, dan warna. Bahkan ada juga yang khusus buat anak-anak tapi tidak dilengkapi dengan pedal. Mereka menyebutnya kick bike. Jadi tidak digowes, melainkan langsung di-kick atau didorong menggunakan kaki. Aneh memang. Tapi justru di situlah letak keunikannya.

Kekurangan

Ada kelebihan, tentulah pasti ada kekurangan pada setiap produk, tak terkecuali sepeda London Taxi ini. Apa saja?

  • Masih Menggunakan Frame Steel
  • Kekurangan yang menurut saya paling menonjol adalah dari segi bahan frame-nya. Dengan harga yang walaupun relatif terjangkau, tapi sebenarnya juga ga murah, seharusnya London Taxi bisa membuat frame-nya minimal dari bahan alloy. Alloy versi paling murah pun sudah cukup. Mengapa? Selain berat, keluhan yang paling banyak muncul dari para pengguna sepeda ini adalah frame-nya gampang berkarat. Waktu saya tanyakan kepada salah seorang sales-nya Jefferys Indonesia, bilangnya, “Dibuat demikian biar lebih mengesankan onthelnya Pak“. Jawaban yang kurang memuaskan bagi saya. Ayolah… sepeda lipat dan beberapa MTB merk lokal dengan harga sejutaan saja sekarang rata-rata sudah menggunakan alloy kok. Masa sekelas London Taxi dengan harga di atas itu tidak bisa. Atau malah sebenarnya komponen harga tertingginya justru habis di desain? Mungkin saja.

  • Built-Quality-nya Tidak Terlalu Bagus
  • Sepeda ini saya terima pertama kali masih di dalam dus. Belum terakit sempurna. Sekitar 60-70% an lah. Sehingga perlu sedikit asah otak dan kemampuan bongkar pasang sekenanya dengan hanya berbekal kertas manual pemasangan yang sudah sepaket dengan dusnya. Paket ini juga dibekali dengan kunci L dua ukuran bolak balik, dan kunci pas ukuran 13 untuk memasang bagian as rodanya. Terus terang, ternyata kurang. Ada beberapa bagian yang membutuhkan kunci pas atau kunci ring dengan ukuran beragam. Ada yang 6, 8, 9, 10, ada juga yang 12. Sehingga terpaksa harus bongkar-bongkar kotak perkakas yang memang jarang sekali saya gunakan.

    Dalam prosesnya, ada beberapa bagian yang kurang presisi. Seperti spakbor, rak depan, juga bagian remnya. Sehingga perlu sedikit extra adjustment yang gampang-gampang susah biar komponen-komponen tersebut terpasang dengan sempurna. Yang bagian spakbor contohnya. Beberapa kali saya bengkok-bengkokkan dengan paksa karena masih gasruk sama permukaan ban. Dibengkokkan ke atas, sampingnya kena. Dibengkokkan ke arah dalam, ga pas masang baudnya. Ribet lah pokoknya. Terlebih lagi ternyata ada beberapa mur baud yang ga ada. Terpaksa lah saya beli sendiri. Daripada terlalu lama menunggu respon dari pihak sales-nya.

    Sebenarnya ada satu bagian yang menurut saya agak aneh. Yaitu bagian rak belakang. Kalau memang London Taxi “meniru” sepeda onthel sebagai role model-nya, seharusnya bagian ini diganti saja dengan boncengan dengan besi model pipa berongga yang seukuran dengan dengan rak bagian depan. Sedangkan yang diberikan hanyalah rak pannier dengan bahan besi utuh diameter kecil, catnya glossy lagi. Padahal hampir keseluruhan body, sepeda ini dicat dengan permukaan doff. Ga nyambung. Kurang match. Disamping itu, secara fungsi juga tidak bisa dibuat sebagai boncengan orang. Kalaupun dipaksakan, beban maksimal yang dapat diangkut hanya sekitar 20kg. Ya.. kira-kira anak berusia 4-5 tahun lah.

    review sepeda london taxi

  • Group-set-nya Nanggung
  • Seperti yang sudah saya ceritakan di atas bahwa sepeda London Taxi ini sudah dibekali dengan operan gigi. Tapi menurut saya masih nanggung. Mengapa saya katakan masih nanggung? Karena kombinasi giginya hanya ada pada bagian belakang saja. Sementara bagian depan atau piringan, tidak disediakan. Hanya ada satu. Itupun diameternya lumayan kecil. Sehingga rasio perputaran dan perpindahan giginya tidak terlalu kentara. Dipakai nanjak juga tidak bisa ringan-ringan amat. Dipakai dalam mode top-gear untuk kecepatan penuh juga kurang maksimal.

    review sepeda london taxi

  • Standarnya yang Kurang Standar
  • Kekurangan terakhir yang menurut saya lumayan fatal adalah posisi standarnya yang benar-benar tidak stabil. Entah karena penempatan standarnya, atau karena model standarnya yang terlalu kecil. Kalau menurut saya, mengapa tidak sekalian diberikan model standar dobel yang biasa dipakai pada sepeda-sepeda onthel pada umumnya. Mungkin bisa lebih stabil. Serius, kestabilannya pada waktu distandar lumayan parah. Beberapa kali pernah kesenggol, dan ambruk. Tapi mungkin saja waktu itu dia sedang lelah. Sehingga mudah goyah. Halah.

Kesimpulan

Dengan segala deskripsi fungsional, desain, dan beberapa kekurangannya, sepeda London Taxi menurut saya cukup OK. Worth it lah. Bobot terbesarnya ada pada desainnya yang “ga biasa”, juga kesan berkendaranya yang bisa membuat santai, mirip sepeda onthel. Overall… saya sangat mengapresiasi keberadaan sepeda ini, walaupun tentunya akan lebih joss lagi kalau beberapa kekurangan yang saya sebutkan di atas dapat dieliminasi oleh pihak London Taxi.

  Desain

  Harga

  Kenyamanan Berkendara

  Built-Quality

  Penggunaan Dalam Kota

  Penggunaan Pada Medan Off-Road dan Nanjak

  Berat / Bobot

Tetap jaga kesehatan dan keep moving ya gaes. Salam gowes!!

Advertisements

21 thoughts on “Review Sepeda London Taxi

      1. Justru ilmu the power of kepepet ini penting menurut saya mas. Karena efisien. Tidak melulu mengandalkan uang untuk beli baru. Bisa bisa konsumtif malahan. Tapi salut lah sama bapaknya. Keren…

        Liked by 1 person

    1. Btul. Nah, itu sebenernya bukan boncengan. Tapi cuman berfungsi sebagai rak. Bisa sih dibuat mbonceng, tapi anak-anak aja. Ga akan kuat untuk orang dewasa. Dudukan boncengan yang empuk beli terpisah. 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s