Tren Kosakata


Bismillaah…

Rasa-rasanya sudah lama saya tidak “mendengar” kosakata atau frasa seperti: tenggang rasa, acuh tak acuh, handai tolan, musyawarah mufakat, gotong royong, bersahaja, gusar, gundah gulana, kawula muda, senyampang, adiluhung, hormat-menghormati, azas kekeluargaan, harkat dan martabat. Kira-kira kemana perginya mereka? Hehehe…

Ya… beberapa kosakata di atas banyak yang mengenal sebagai kosakata era 90-an. Masa yang konon “katanya” digadang-gadang sebagai masa yang paling indah di negeri ini karena jauh dari nilai-nilai negatif. Atau ada pula yang menyebutnya sebagai kosakata era Orde Baru, karena di masa inilah aturan-aturan normatif dituliskan secara rinci pada pedoman kehidupan bernegara. Mulai dari UUD’45, Butir-butir Pancasila, hingga Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka. Style-nya sama, berasosiasi positif, normatif, diplomatis, tidak ada takaran tertentu dalam hal implementasinya, dan cenderung mengambang di langit-langit.

Coba bandingkan dengan apa yang sering kita dengar sekarang. Sepertinya memang ada pergeseran penggunaan kosakata yang semula bersumber dari text book penataran P4 di sekolah-sekolah, kini berlandaskan pada semua hal yang tertulis di media sosial. Itulah mengapa saya lebih suka menyebutnya sebagai kosakata era media sosial. Style-nya pun sudah sangat berbeda. Ceplas-ceplos apa adanya, gaya bebas, relatif lebih lugas, ekspresif, pada umumnya berasosiasi miring karena memang media sosial adalah tempatnya caci maki dan umpatan, dan kebanyakan berbentuk ungkapan perasaan. Sekarang orang-orang lebih biasa mengungkapkan perasaan “galau” daripada “gundah” atau “gusar”. Sekarang lebih enak menuliskan “teman-teman” daripada “handai tolan”. Pun sekarang lebih gaul kalau mengucapkan “kimpoi” daripada “nikah” atau “kawin”. Atau lebih singkat “boker” daripada “buang air besar”. Serta beberapa contoh lain seperti: kepo, keles, kamseupay, woles, php, cepu, otw, nyetun, masbuloh, gobes, aho, rempong, cekidot, yang kadang saya sendiri tidak selalu mengerti bagaimana pengucapan, penggunaan, dan maknanya.

Namun sebenarnya saya tidak akan membanding-bandingkan mana yang lebih baik, karena zaman memang tidak akan pernah dapat dibandingkan secara equal. Tiap generasi mempunyai masanya masing-masing. Hanya saja saya sangat mengapresiasi jika ada orang sekarang yang masih bangga menggunakan kosakata era 90-an seperti yang ada di video berikut ini. Dia adalah salah satu peserta favorit saya di kompetisi Stand Up Commedy Indonesia (SUCI) 4 Kompas TV yang sekarang sedang berlangsung. Cekidot!! (lho!?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s