Menjadi Lebih Baik dengan Menulis


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat berdiskusi dengan teman. Teman yang saya anggap mempunyai kelebihan dibanding saya dalam hal manajemen waktu, manajemen diri, dan manajemen masalah. Teman yang saya anggap memiliki “ritme” hidup relatif lebih baik daripada saya. Melalui diskusi itu, alhamdulillaah… saya mendapat sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang mungkin akan sangat membantu memberi pencerahan atas “keruwetan” hidup saya selama ini. Ya, saya ini termasuk salah satu orang yang masih merasakan hidup yang kacau balau dan “semrawut”. Atau kalau istilah “londo”nya biasa disebut cruel life, yang saking “kruwel-kruwel”nya sampai ga jelas mau berbuat apa, mau kemana, apa tujuannya, apa targetnya, dsb (lho.. kok malah curhat). Ok, dengan niat tanpa mengurangi nilai kesan yang saya dapat, saya bermaksud membaginya dalam blog ini. Semoga bermanfaat.

Begini ceritanya, waktu itu saya menanyakan kepada teman saya itu satu hal. Bagaimana sih caranya agar kita bisa belajar me-manage hidup ini dengan baik? Satu jawaban, mulailah dengan belajar menulis secara teratur. Semakin sering kita menulis, maka semakin teratur hidup kita. Ada yang aneh? Mungkin tidak, sebab kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Sederhananya begini, untuk menulis, kita memerlukan tema atau topik pembahasan tertentu. Untuk membahas suatu topik, acapkali kita membutuhkan bahan atau referensi. Entah dari pembicaraan dengan teman, materi perkuliahan, pengamatan atas kejadian aktual, membaca buku, dsb. Dan itu baik disadari maupun tidak, ketika kita membuat suatu tulisan, kita pasti menuangkan ide kita berdasar atas apa yang telah kita pelajari dari referensi. Untuk mempelajari sesuatu kita pasti perlu meluangkan alokasi waktu. Nah, kita tahu bahwa dengan mengatur alokasi waktu, sedikit banyak kita akan membiasakan diri kita untuk memperbaiki pola hidup kita dari segi waktu.

Namun tidak bisa disangkal, ada kalanya kita, saya khususnya, terserang suatu penyakit yang disebut dengan “malas”. Jika sudah malas, suatu pekerjaan sesedikit apapun tidak akan bisa selesai. Waktu pun berjalan terasa sangat cepat dan ujung-ujungnya kita tidak mendapat hasil apapun alias nihil. Saya yakin, tidak sedikit yang mengalami hal ini. Kalau sudah begini, biasanya yang terjadi adalah efek kontinuitas. Semakin lama kita membiarkan ke”malas”an kita, maka akan semakin terbiasa pula pola hidup kita mengikuti ke”malas”an itu. Hari demi hari pun pasti akan didapati pola “ritme” ke”malas”an yang serupa. Padahal manusia itu pada umumnya cenderung “nyaman” atas kebiasaan yang biasa dia lakukan. Sehingga tidak bisa disangkal, bahwa effort untuk mengubah kebiasaan itu jauh lebih sulit daripada merumuskan kebiasaan itu sendiri. Contoh simple-nya seperti ini, mengubah jam tidur lebih awal 1 jam setiap harinya jauh lebih sulit dilakukan daripada hanya mengatakan, “aku harus tidur lebih awal agar bisa bangun pagi”. Nah, dengan belajar menulis secara teratur, mau tidak mau kita juga dipaksa agar terbiasa dengan pola pencapaian target. Semisal, ada mahasiswa yang sedang mengerjakan tesis atau tugas akhirnya. Jika dia tidak menentukan target kapan selesainya, maka pasti tesis atau tugas akhir itu akan molor dan mungkin akan semakin terbengkelai. Jika target-target telah ditentukan, bulan ini selesai bab ini, jam segini harus ada data yang masuk tiap harinya, x jam setiap minggunya harus ada evaluasi, dsb, maka setidaknya ada progress tiap satuan waktunya yang bisa menjadi kontrol atas terselesaikannya tesis tersebut. Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita melakukannya dengan “teratur”. Sekali lagi, “melakukannya” bukan hanya “merumuskannya”.

Untuk itulah, tidak ada salahnya jika kita mulai dengan menulis secara teratur. Dengan menulis, kita pasti “melakukan” sesuatu, yaitu kegiatan menulis itu sendiri. Dan yang pasti ada wujudnya, tulisan. Lalu, bagaimana halnya dengan orang yang belum terbiasa menulis? Sulit memang, tapi banyak pendapat dari rekan-rekan yang terbiasa menulis yang mengatakan begini, coba “mulailah” dengan menuliskan sesuatu, apapun itu. Jika kita sudah mengawalinya dengan menuliskan sesuatu, maka selanjutnya kita akan bisa mengalir secara sendirinya. Untuk belajar mengawalinya, kita bisa tulis satu kalimat pembuka. Jika tidak bisa satu kalimat, maka cukup satu kata awal. Jika tidak bisa satu kata, maka cukup tuliskan satu huruf saja untuk kata pertama. Masa’ menuliskan satu huruf saja tidak bisa?😀 . Yah, semoga bisa mengingatkan kita, khususnya saya untuk mencoba menjadi lebih baik. Aamiiiin…

15 thoughts on “Menjadi Lebih Baik dengan Menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s