Lupa

Lupa


Bismillaah…

Lupa
Gambar diambil dari sini

Hampir lupa saya mau membahas apa ya, hehehe. Kebetulan sedikit ingat tentang khotbah jumat kemarin di masjid (lupa nama mesjidnya) oleh ustadz siapa gitu (lupa juga nama ustadznya) -_-‘. Yang jelas intinya membahas mengenai topik “LUPA”. Begini kira-kira rangkuman singkatnya…

“Manusia adalah tempatnya salah dan lupa”, ungkapan tersebut memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Banyak kejadian semisal ketika ada seorang selebritis yang “tidak sengaja” ketahuan berbuat salah, lalu dengan bangganya memohon maklum karena dia adalah manusia biasa yang bisa berbuat salah. Atau barangkali ketika ada seorang pejabat yang terkena kasus korupsi ratusan juta hingga milyaran rupiah, lalu dengan lantangnya kuasa hukum sewaannya mengatakan bahwa hal tersebut wajar mengingat terpidana juga manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan. Bahkan di dalam lirik lagu dengan judul Cintailah CInta yang dibawakan oleh salah satu grup band ternama di Indonesia, juga terdapat intisari dari ungkapan di atas, “Kita takkan bisa berlari dari kenyataan bahwa kita manusia, tempatnya salah dan lupa”. Lalu apa moral ceritanya?

Kita tidak akan pernah dapat menjawab mengapa kita lupa, namun kita dapat mencari tahu apa penyebab kita lupa. Kata ustadz, ada tiga (3) faktor yang menjadi penyebab bagaimana kita sebagai manusia bisa lupa.

1. Faktor usia
Tidak dapat dipungkiri bahwa seiring dengan semakin berkurangnya umur dan bertambahnya usia, kondisi ingatan kita pasti menurun karena adanya penurunan fungsi sel-sel otak yang memang telah ditentukan sedemikian adanya berdasar sunnahNya.


Gambar diambil dari http://fridhey.files.wordpress.com/2010/11/agar-tidak-pikun.jpg?w=298&h=225.

2. Faktor kesibukan
Kebanyakan dari kita kadang tak menyadari bahwa kesibukan sehari-hari yang kita lakukan dapat membuat kita melupakan banyak hal, apalagi jika kesibukan tersebut disertai dengan kondisi “stres”. Contoh yang paling gampang terlihat ketika kita sedang sibuk adalah “lupa makan” ๐Ÿ˜€ .


Gambar diambil dari http://2.bp.blogspot.com/_WLTosSVsRMg/S7c4b2-VHbI/AAAAAAAAAIk/R1eb6k22EE4/s1600/pikun03.jpg.

3. Menuntut ilmu
Lho!? menuntut ilmu kok bisa jadi lupa. Hal tersebut karena fitrahnya memang seperti itu. Semakin banyak kita belajar menuntut ilmu, maka akan semakin banyak yang harus kita masukkan ke dalam memori di otak. Memori ini tentunya pasti ada batasan daya ingat, dan bergantung pada kemampuan masing-masing orang, serta usianya. Jika ada ungkapan yang menyatakan, “banyak belajar banyak lupa, jadi mending tidak usah belajar”, pernyataan ini benar namun tidak tepat guna ๐Ÿ˜€ . Jika tidak mau belajar yaa jangan berharap ada sesuatu yang kita raih dengan cuma-cuma. Sebut saja begini, “mau kaya kok tidak mau belajar bagaimana menjadi orang kaya”. Itulah manusia, maunya semua serba tersedia sesuai keinginannya, tanpa berpikir bagaimana cara mendapatkannya. Atau dalam bahasa Jawa, “pingine kabeh nganyuk neng ngarepe, tur wegah golek dewe”. Tapi jangan khawatir, ada beberapa kiat bagaimana cara efektif agar kita terhindar dari “lupa” dalam menuntut ilmu.

Yang pertama adalah, menurut Imam Nawawi, kita sebaiknya mencatat apa-apa yang telah kita pelajari. Pesannya kira-kira begini: โ€œJanganlah dia meremehkan suatu faedah yang dia dapatkan atau dengar dalam bidang apapun, tetapi hendaknya dia segera mencatat dan sering berulang-ulang membaca kembali catatannya. Dan janganlah dia menunda untuk mencatat sebuah faedah sekalipun dia menganggapnya mudah, sebab betapa banyak kecacatan dikarenakan menunda, apalagi di waktu lain dia akan mendapatkan ilmu baru lagi.โ€. Nah, tidak ada salahnya kan jika kita berlatih untuk mencatat apapun yang sedang dan telah kita pelajari. Bahkan mungkin untuk khotbah jumat sekalipun. Sepertinya saya jarang melihat ada orang yang mencatat ringkasan khotbah jumat, entah apakah tidak diperbolehkan atau bagaimana. Bagi yang tahu tentang hukum mencatat khotbah jumat mohon saya diberitahu.

Yang kedua, menurut Sayyidina Ali, tidak ada cara lain dalam menghujamkan ilmu ke dalam ingatan kita selain dengan mengamalkannya. Contoh yang paling sederhana adalah jika kita belajar bahasa, bahasa apapun itu, tidak ada cara lain untuk membuat kita berbahasa dengan baik dan benar selain dengan cara mengamalkannya, baik lewat ucapan atau tulisan.

Yang ketiga, menurut Imam Waqi’, sang guru dari Imam Syafi’i, untuk menjauhkan diri dari sifat lupa ketika menuntut ilmu adalah dengan cara menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. Sebagai contoh saya sendiri, jujur saja banyak hafalan ayat-ayat AlQur’an yang hilang, selain karena jarang diamalkan, juga terlalu banyak maksiat. Astaghfirullaah… Mari berbenah…

Sejak awal kita telah membahas tentang “lupa”. Lupa itu boleh. Lupa itu wajar. Namun perlu diingat, dalam surat At-Tin ayat 4 disebutkan bahwa manusia itu diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya “ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุง ุงู„ุฅู†ู’ุณูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู ุชูŽู‚ู’ูˆููŠู…ู”. Sehingga, wajib bagi kita untuk selalu memperbaiki diri. Terkait dengan “lupa”, ada beberapa hal yang kita “tidak boleh” lupa, yaitu:

1. Lupa akan keselamatan dirinya
Lupa keselamatan diri berarti lupa akan Tuhannya. Sehingga tidak ada cara lain selain selalu mengingat Allah dalam setiap hela napas kita. Karena sebaik-baik orang adalah yang selalu mendekatkan diri pada Penciptanya. Banyak sekali ayat-ayat AlQur’an tentang perintah mengingat Allah ini, diantaranya adalah: Ar-Ra’d: 28, Al-Kahfi: 24, Al-Ahzab: 35 & 41, Al-Baqarah: 152, Ath-Thur: 48-49, Al-Anfal: 45, juga Al-Munafiqun: 9 yang jelas-jelas menyatakan, “Dan, ingatlah Rabbmu jika kamu lupa”.

2. Lupa akan jatahnya
Lupa terhadap jatah ada tiga (3), yaitu: jatah makan, jatah jodoh, dan jatah pakaian. Jatah ini sering disebut sebagai fitrah. Jika ada orang yang lupa terhadap fitrahnya, maka kemungkinannya ada dua (2): menyiksa diri, atau kurang waras. Hehehe.

3. Lupa akan kesalahan dirinya
Kita akan rugi dan aniaya terhadap diri sendiri jika sampai lupa terhadap kesalahan yang telah kita perbuat. Seorang sahabat pernah berkata, “yang berhak masuk ke lubang yang sama adalah seekor keledai”. Silakan direnungkan… ๐Ÿ˜€

4. Lupa akan jasa kebaikan orang lain
Seandainya kita lupa dengan siapa yang mengandung kita selama 9 bulan, maka laknatlah hidup kita. Seandainya kita lupa dengan siapa yang menafkahi biaya sekolah kita dari TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah, maka dimana hati nurani kita. Jika kita lupa dengan seorang sahabat yang selalu berada di sisi kita di kala tertimpa kesulitan hidup, maka sungguh kurang ajarnya diri kita. Kita tidak akan dapat hidup sendiri di dunia ini. Ada prinsip saling membutuhkan dan saling melengkapi. Sepertinya dunia akan indah jika semua orang berpikir tentang hal ini.

Tapi ah sudahlah, saya tidak mau berkhayal lebih jauh tentang dunia ini. Semoga bermanfaat saja, dan mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan. Semua yang benar datangnya dari Allah, yang sudah barang tentu berasal dari penulisnya. Wallahua’lam bishshawwab…

3 thoughts on “Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s