bandung, ramah, someah

Basa-Basi Budaya Ketimuran


Bismillaah…

Konon, kita ini disebut-sebut sebagai bangsa yang ramah tamah. Betapa tidak, lihat saja senyum-senyum yang terpampang nyata pada icon-icon wisata di setiap penjuru negeri ini. Atau tengok saja slogan Wonderful Indonesia yang selalu mengedepankan keindahan alam dan kesantunan masyarakatnya. Bahkan iklan Peps*d*nt pun mengusung brand yang sama. Senyum, ramah tamah, santun, someah.

bandung, ramah, someah
Friendly Bandung

Katanya, hal ini tidak terlepas dari latar belakang budaya ketimuran kita yang cenderung mudah merasa sungkan, tidak enakan, lebih suka basa-basi, dan kurang to the point. Contohnya seperti ini:

Anggap saja rumah sendiri

Ketika bertamu ke rumah orang, biasanya kita langsung disapa dengan, “silakan, anggap saja rumah sendiri”. Maksudnya adalah kita sebagai tamu tidak perlu bersikap malu-malu dan sungkan kepada pemilik rumah. Rileks saja selayaknya sedang berada di rumah sendiri. Duduk santai saja seperti sedang di pantai. Numpang buang air boleh. Numpang buang sampah juga OK. Asal jangan numpang sholat dan nonton TV. Ga akan bisa sholat sambil nonton TV. Batal.

Ga usah repot-repot

Sebagai tamu, biasanya kita disuguhi makanan ringan sebagai pencair suasana. Biasanya yang punya rumah dengan ramahnya meminta maaf, “maaf nih, ga ada apa-apa, adanya cuman ini”. Spontan jawabannya pasti, “gapapa… ga usah repot-repot, keluarkan saja semuanya, gratis ini“.

Oh.. gapapa, namanya juga anak kecil

Kalau bertamunya sendirian atau dengan orang dewasa mungkin aman. Tapi kalau membawa anak kecil, itu yang perlu hati-hati. Saya pernah membawa A bertamu ke rumah orang, dan secara tidak sengaja hampir memecahkan toples makanan yang disuguhkan. Tipikal tanggapan orang yang punya rumah biasanya, “oh… gapapa, namanya juga anak kecil”, sambil diiringi senyum yang serba tanggung dan canggung. Seperti ini… #eh

senyum dian sastro
Ada Apa dengan Cinta

Untuk masalah positif atau negatifnya budaya ramah tamah ini ya sudahlah ya, setiap budaya pasti mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namanya juga budaya, dibentuk dari kebiasaan yang dilakukan dalam kurun waktu yang lama. Kalau saya sih masih bangga dengan keramahtamahan bangsa kita ini, walaupun sekarang sepertinya semakin surut karena budaya senyum yang mulai hilang. Sedikit basa-basi gapapa lah, yang penting ikhlas menghargai orang lain. Monggo

34 thoughts on “Basa-Basi Budaya Ketimuran

  1. Buahahaha…kenapa juga foto si Disas nongol di situ?

    Terlalu ramah. “Ya gapapa..namanya juga anak kecil” dalem ati, sial! Toples mahal tuh..belinya di China” *kemudian bingung, ini toples apa guci?* :)))

    Like

  2. Kalo saya lebih seneng apabila tamu yg saya tawarkan tsb mau mencicipi makanan/minuman yg disuguhkan. Kadang kalo nyuguhin ada juga yg gak disentuh, rasanya sediih😦 *okelebay* haha Tapi bener deh, saya juga kalo ke rumah orang nyicip juga soalnya😛

    Like

  3. Saya masih berusaha untuk tetap tersenyum kalau ketemu dengan orang yang tidak dikenal, soalnya bisa mencairkan suasana😀
    Meskipun saya masih malu kadang, karena saya canggung :hehe

    Like

  4. Hahaa.. Klo aku ke rumah temen yg emang bs dianggep rumah sendiri, aku masuk kamarnua dan numpang tiduuuuur.. Basa-basi anggep rumah sendiri itu lebay, klo yg lain okelaaah….

    Like

  5. Silakan. Anggap aja rumah sendiri.
    Tanggapan: buka baju sama celana. Jadi singletan n celana pendek. Duduk angkat kaki. Tuan rumah cuma bengong.

    Budaya ramah bagus sih. Tapi ada bahayanya juga. Hehehe.

    Like

  6. suka serba salah kalau diomongin “anggep aja rumah sendiri”. kan jelas-jelas beda rumah😀

    tapi sebagai tuan rumah yang nyediain makanan, kita suka bahagia loh kalau ap ayang disuguhkan bisa abis, terus sedih kalau ga disentuh sama sekali.

    Like

  7. ada lagi mas tambahan kalo kita bertamu, kata yang punya rumah “Maaf ya rumah nya berantakan”, padahal belum tentu sih rumah nya rapi kalo kita ga ada juga #basabasi. Saya juga sering ngomong itu, apalagi kalo ada temen nginep hehehe

    Like

  8. Anggep rumah sendiri ya, ni belom disapu, itu piring belom dicuci..tolong sekalian.

    Kalo disini hampir tiap ketemu wanita berkerudung, kami saling sapa “assalamualaikum” walaupun gak kenal. Itu termasuk budaya ramah tamah kan ya.
    #proud to be moslem

    Like

  9. kenapa saya jadi fokus ke senyum mas-mas yang dipojokan yak, hhehe. lepas dan alami😀. kalau dihidangkan sesuatu, mesti lagaknya kayak gitu, mas. padahal mau, hhehe. kalau saya ke setiap orang kalau ketemu mesti ngusahakan senyum, mas. entah sekedar kontak mata dan respon sebaliknya juga gitu, jadi ngerasa kayak bersabahat. kadang ada yang datar, kayaknya bawaan orangnya gitu meski disapa😀

    Like

  10. kalau bapak-ibu saya kalau ada tamu berkunjung ke rumah, pasti jadi heboh dan repot sendiri nyariin suguhan. nular ke saya juga jadinya kalau ada tamu pas ortu lagi nggak di rumah. tapi pernah juga waktu saya mampir ke rumah temen malah dia nawarin minum aja nggak, sampai agak lama baru dia nyadar. sebenernya ya bukan masalah besar sih, tapi gara-gara sudah biasa dengan budaya “merepotkan diri bila ada tamu” itu tadi saya jadi ngerasa aneh sama sikap temen saya tadi. kayaknya budaya tiap keluarga pun bisa beda-beda juga, meskipun secara umum orang Indonesia rata-rata “nggak enakan” kalau nggak bisa menjamu tamu dengan baik.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s