Gigit [Dua Dunia]


Bismillaah…

Aku adalah anak semata wayang dari pasangan Bapak dan Ibuk yang dua-duanya berasal dari Jawa Timur. Aku lahir dan dibesarkan di kotanya para pahlawan, Surabaya. Walaupun lokasi rumahku berada di tengah-tengah kota yang katanya diklaim sebagai kota megapolitan terbesar kedua di Indonesia, daerah tempat tinggalku sama sekali bukanlah kawasan komplek yang megah, apalagi kawasan elit yang mewah. Hanyalah kawasan perkampungan rakyat dengan tingkat kepadatan populasi yang luar biasa. Aku adalah anak kedua dari pasangan lintas daerah. Papa berasal dari Sulawesi, sementara Mama asli Jawa. Aku lahir dan dibesarkan di salah satu kawasan pemekaran yang cukup mewah di pinggiran ibukota negeri ini, Jakarta. Dari kecil, aku dan kakakku merasa sangat bersyukur. Karena selain bisa hidup di keluarga yang lumayan mapan, daerah tempat tinggal kami juga tidak pernah sekalipun mengalami musibah banjir. Musibah tahunan yang selalu setia mengunjungi sebagian besar warga Jakarta dan sekitarnya.
Walaupun merasa kurang beruntung secara ekonomi, Bapak dan Ibuk bukanlah orang-orang yang buta soal visi. Setidaknya visi tentang pentingnya sebuah pendidikan. “Pokoknya, bagaimanapun caranya, anakku harus mengenyam pendidikan setinggi-tingginya”, kira-kira begitu pekik Bapak sewaktu aku baru pertama kali duduk di bangku pendidikan TK nol kecil. Hidup berkecukupan bukan berarti harus leha-leha dan enak-enakan. Setidaknya itulah yang selama ini menjadi moto utama keluargaku. Papa adalah orang yang keras, disiplin, tapi selalu ringan ketika membantu orang lain. “Apapun profesimu kelak, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain”, kira-kira itulah pesan harian yang selalu dikatakan Papa semasa aku masih anak-anak.
Kata-kata itu begitu melekat di benakku. Hingga bangku sekolah pun sudah menjadi makanan favoritku setiap hari. Dan baca-baca buku pelajaran adalah hobiku setiap saat. Aku pun lebih banyak bergaul dengan teman-teman sekolah daripada teman-teman sekampung. Bahkan dapat dikatakan bahwa sekitar 74% kehidupanku adalah berada di lingkungan sekolah. Karena memang lingkungan akademis membuatku merasa nyaman. Kalimat pesan harian Papa benar-benar stuck in my head. Yang terbayang di otakku ketika mendengar kata-kata “bermanfaat bagi orang lain” adalah melakukan apapun yang benar-benar bisa membantu orang lain secara langsung. Mungkin inilah yang membuatku aktif di organisasi dan kepanitiaan. Karena dengan begitu aku bisa belajar bagaimana bersosialisasi dengan orang lain, dan juga belajar bagaimana berempati terhadapnya.
Belasan tahun waktuku mengenyam pendidikan sekolah formal pun begitu cepat berlalu. Hingga saatnya aku harus menentukan mau jadi apa nantinya. Waktu itu aku hanya bisa membayangkan dua profesi, insinyur atau dokter. Akhirnya aku memilih opsi pertama. Selain karena aku lebih suka dengan dunia teknik, profesi dokter terdengar terlalu “mahal” bagiku. Setidaknya hal itu juga sudah jauh-jauh hari diwanti-wanti oleh Ibuk. “Jangan sekolah kedokteran ya Nak, mahal biayanya”, begitu kira-kira yang kuingat. Tidak terasa, ternyata begitu cepat usia remajaku berlalu. Aku dituntut untuk segera menentukan arah. Setidaknya itu yang dikatakan orang-orang berdasarkan strata pendidikan formalku. Jelas yang terbayang waktu itu adalah profesi-profesi yang berhubungan dengan orang, bukan mesin, apalagi komputer. Entah mengapa aku sama sekali tidak tertarik dengan benda-benda mati seperti itu. Rasanya kalau ngobrol lebih enak dengan manusia. Untuk itulah aku memilih bidang medis sebagai tujuanku.
Akhirnya aku memilih bidang komputer untuk kutekuni. Orang-orang biasa menyebutnya dengan IT, karena memang sarat dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat. Katanya, profesi di dunia IT sedang banyak dicari dan dibutuhkan waktu itu. Jadinya, ya aku pun ikut latah mengikuti kata-kata mereka. Terlebih, aku sangat tertarik dengan dunia komputer, kok sepertinya keren kalau bisa bikin game sendiri. Begitu pikirku. Ternyata niat dan doaku benar-benar dikabulkan. Aku berhasil masuk Fakultas Kedokteran Gigi di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Artinya apa? Artinya, aku bakal menjadi salah satu tenaga medis yang banyak dibutuhkan orang-orang. Pasti akan ada banyak hal dari disiplin ilmu kedokteran yang kupelajari, yang bisa kuberikan kepada masyarakat luas. Dengan begitu, aku bisa memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Begitu pikirku.
Di Bandung, tempat kuliahku, aku banyak menemukan pengalaman menarik yang membuat pola pikirku jadi semakin terbelalak. Ternyata dunia IT itu tidak sesimpel membuat game sendiri. Ada banyak pembangunan infrastruktur yang masih perlu campur tangan dari para ahli-ahli IT di seantero negeri ini. Sangat banyak bahkan. Semasa menempuh jalur keprofesian kedokteran gigi, aku mengetahui banyak hal yang ternyata jauh lebih kompleks dari apa yang kupikirkan sebelumnya. Ternyata, dunia medis itu tidak hanya secakup mengobati orang biar sembuh. Tapi ada peran yang lebih luas juga dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang hidup sehat.
Mataku menjadi semakin terbuka ketika memasuki dunia kerja. Dunia angker yang disebut orang-orang sebagai hutan belantara. “Welcome to the jungle“, begitu kata salah seorang senior sekaligus sahabat saya. Dan rupanya apa yang kulihat, dan kurasakan memang benar adanya. Hingga suatu hari aku bertemu dengan seorang gadis yang menjadi tambatan hatiku sampai saat ini. Seorang dokter gigi dengan ketulusan hatinya yang ternyata mampu membangkitkan gairah perjuangan hidupku yang selama ini hanya bisa melempem. Dengannya aku bisa begitu kuat, begitu damai, dan selalu punya semangat baru. Kurasa aku jatuh hati padanya. Akhirnya, dengan berbekal niat lillaahita’ala, tak lama kemudian kuputuskan untuk mengikatnya dengan tali pernikahan. Memang, secara teori nampak ideal. Tapi implementasinya yang justru tidak semudah membalik telapak tangan. Mau semaju apapun dunia kedokteran saat ini, tapi kalau mental orang-orangnya masih tempe, pasti akan ada banyak benturan. Ujung-ujungnya kembali lagi ke persoalan duit. Atau turunannya yang tidak jauh dari situ. Seakan kode etis konservatif di dunia medis sudah semakin terkikis. Hingga aku bertemu dengan orang IT yang justru mempunyai idealisme sangat tinggi akan kondisi negara ini. Agak berbeda dari orang-orang seprofesi yang kutemui. Orangnya sabar, sederhana, dan membuatku tenang ketika aku berada di dekatnya. Aku pun merasa tertarik dengannya. Tak sadar ternyata aku sudah menyandarkan seluruh hidupku padanya.
Kombinasi yang aneh. Satunya dari dunia medis, sementara yang satu lagi dari dunia digital. Yang satu berurusan dengan banyak orang. Sementara yang satu lagi hanya berkutat dengan benda virtual yang sejatinya adalah benda mati. Seakan tidak nyambung. Tapi alhamdulillah kami begitu menikmati kebersamaan kami. Saling melengkapi, saling support, dan maju bersama dalam cinta. Dokter gigi dan orang IT… GIGIT.

9 thoughts on “Gigit [Dua Dunia]

  1. Awww, postingan berpasangan ini Mbah? Kok sama sih cerita asal kita, sama-sama dari surabaya dan sama-sama dapet pesen yang sama dari Ibu. Gak milih kedokteran. Masup IT. Keren idenya!😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s