Mencela yang Mencaci


Bismillaah… Nampaknya sedang ngetren membicarakan Ibu Menteri nyentrik, yang baru saja dilantik, menuai banyak kritik, karena faktor akademik, dan kebiasaan merokoknya yang kurang estetik, apalagi tatonya yang begitu eksentrik. Konteks “membicarakan”nya di media sosial tentu saja mempunyai kecenderungan ke arah negatif. Entah mengapa kok sekarang ini kebanyakan dari kita justru bangga sekali melakukan bullying intimidatif. Baik terhadap golongan tertentu, atau figur sorotan secara subjektif. Lucunya, pelaku-pelakunya tidak sedikit yang berasal dari kalangan edukatif, yang seharusnya bijak dan arif. Bukannya malah ikut-ikutan flaming secara agresif dan provokatif. Nah, counter attack-nya pun juga penuh dengan asumsi. Yang dibahas etika dan tradisi, kok … Continue reading Mencela yang Mencaci

Muka-muka Kosong


Bismillaah… Muka-muka kosong itu… Ada di setiap koridor halte Transjakarta Langkah kaki siaga, menatap jauh ke mana saja Tanpa senyum, tanpa canda, juga tanpa sapa Hanya earphone yang kadang menancap di telinga Muka-muka kosong itu… Ada di setiap gerbong kereta Bogor-Jakarta Berdiri terpana, jongkok bersila, atau duduk ternganga Memandangi layar “hape” dengan penuh seksama Hanya bisik-bisik telpon yang kadang bersuara Muka-muka kosong itu… Ada di masjid-masjid ibukota Menjelang sholat jumat saat adzan sudah lama menggema Tidur lelap ketika rukun khutbah sudah hampir sempurna Sungguh rutinitas yang seakan-akan tanpa makna Muka-muka kosong itu… Ada di setiap kemacetan jalan raya Roda empat … Continue reading Muka-muka Kosong

Rurouni Kenshin: The Legend Ends


Bismillaah… Sudah hafal jalan ceritanya, sudah tahu endingnya bakal seperti apa, tapi masih pingin ditonton, itulah film berjudul Rurouni Kenshin. Film layar lebar yang dikemas dalam tiga seri (trilogi) ini disadur dari versi animenya, Samurai-X, yang dulu merupakan salah satu tontonan TV wajib bagi saya ketika masih “lucu-lucunya” 😛 . Rurouni Kenshin seri pertama diputar sekitar bulan September 2012 di Indonesia. Kesannya, lumayan keren, ga lebay, tidak ada efek-efek yang berlebihan. Hanya saja mungkin agak terasa wagu. Mungkin karena ekspektasi yang berbeda dibandingkan versi animenya. Lalu, sekitar sebulan lalu seri keduanya dirilis, Kyoto Inferno. Secara keseluruhan menurut saya lebih bagus … Continue reading Rurouni Kenshin: The Legend Ends

Pemain Sirkus

Pemain Sirkus


Kata seorang kawan, konsep mengimani kepastian rezeki itu seperti halnya kalau kita melihat pemain sirkus. Kita tahu betul bahwa seorang pemain sirkus profesional pasti sudah sangat mafhum dalam menjalankan aksinya di panggung sirkus. Segala kemungkinan, risiko, dan konsekuensi pastilah sudah diperhitungkan matang-matang. Dari keterampilan, ketangkasan, kepiawaian, dan performa yang ditampilkannya pun kita sudah tahu bahwa seorang pemain sirkus profesional pasti sudah berlatih ribuan kali untuk melakukan adegan akrobatik yang berbahaya, yang sangat mungkin merenggut nyawanya jika terjadi kesalahan sedikit saja. Ya… kita tahu itu. Kita pun mempercayainya, baik dari cerita teman, acara di TV, atau melihat dengan mata kepala sendiri. Artinya, dalam benak kita pun sudah sangat yakin, bahwa ketika kita melihat 100 kali pertunjukan sirkus, dengan kondisi pemainnya tidak pernah gagal sekalipun, maka untuk pertunjukan yang ke-101 pun kita juga masih sangat yakin kalau pertunjukannya bakal berhasil lagi. Tapi bagaimana kalau kita ikut dilibatkan langsung dalam pertunjukan tersebut? Continue reading Pemain Sirkus