Aktivitas Penanggung Hiperhidrosis


Bismillaah…

130895528

Bagi yang belum tahu apa itu hiperhidrosis (hyperhidrosis), mungkin dapat membacanya di sini, atau di sini, atau silakan tanya saja mbah Google, pasti banyak bahasan yang terkait. Intinya, suatu kondisi yang dialami oleh seseorang dimana muncul keringat berlebih pada bagian-bagian tubuh tertentu yang umumnya tidak demikian, seperti: telapak tangan, telapak kaki, ketiak, dan dahi. Penyebab fisik dari hiperhidrosis sendiri ditengarai karena terdapat kelainan pada kinerja saraf otonom yang tidak “normal” dalam mengontrol keluarnya keringat sesuai dengan kondisi-kondisi umum yang mempengaruhinya. Contohnya adalah suhu udara, kelembaban, kondisi psikis yang bersangkutan, dan faktor kesehatan tubuh pada saat itu. Untuk keterangan lebih detail tentang apa penyebabnya, bagaimana gejalanya, dan seperti apa pengobatannya dapat dibaca pada linklink yang saya sebutkan di atas. Saya kira sudah cukup komplit. Atau barangkali ada kenalan/teman yang berprofesi sebagai dokter mungkin dapat membantu memberikan informasi secara lebih gamblang dari sudut pandang medis. Di sini saya hanya akan berbagi (curhat) apa saja aktivitas personal keseharian yang dialami oleh penderita penanggung hiperhidrosis, yang mungkin tidak banyak orang tahu bagaimana ribet dan uniknya mengalami kelainan ini. Ya… saya adalah salah satu dari entah berapa orang di dunia ini yang mengalami kelainan serupa.

1. Suka air

Tidak dapat dipungkiri, bahwa mengalami kelainan ini sedikit banyak pasti mempunyai rasa minder atau malu jika terlihat “basah” pada bagian-bagian tubuh tertentu seperti yang saya sebutkan di atas. Oleh karena itu, bagi seseorang yang mengalami hiperhidrosis, bersentuhan dengan air adalah kebahagiaan tersendiri. Alasannya sederhana, aman. Segala aktivitas yang berhubungan dengan air membuat penderita penanggung hiperhidrosis tidak terlihat “basah” alias tersamarkan. Salah satu contoh yang paling kelihatan adalah ketika berenang. Ketika berenang, semua orang pasti basah karena “nyebur” ke air (ya iyalah). Itulah mengapa berenang merupakan salah satu olahraga favorit saya.

Jadi jangan heran jika pernah menemui orang yang mengalami kelainan ini sering ke toilet atau kamar mandi. Bukan selalu kebelet menunaikan hajat, melainkan (terkadang) hanya ingin mengguyur tangan dan kaki dengan air. Selain untuk menyamarkan, juga berfungsi untuk menurunkan suhu tubuh di sekitar tangan dan kaki yang acapkali menjadi sasaran hiperhidrosis. Syukur-syukur jika terdapat sabun yang berfungsi menghilangkan bau akibat aktivitas bakteri, karena terlalu lama dalam kondisi basah. Jika berhasil, maka tangan dan kaki pun akan otomatis mengering. Jika tidak berhasil lagi, yaa ke air lagi. Jangan heran juga jika pernah melihat orang-orang hiperhidrosis tidak bermasalah ketika kehujanan. Malah senang bahkan. Bukannya sok kuat, bukannya sok galau karena cinta, tetapi air hujan memang terasa sangat menyegarkan kulit.

NB: Sudah dapat ditebak juga kan mengapa blog ini saya beri judul Rainy Days?

2. Pendeteksi cuaca yang (lumayan) akurat

Salah satu keuntungan mempunyai kelainan ini adalah terkadang bisa menjadi pendeteksi cuaca yang lumayan akurat. Kok bisa? Seperti yang sudah saya informasikan di atas, bahwa orang yang mengalami hiperhidrosis akan kesulitan mengontrol keluarnya keringat akibat faktor eksternal, seperti suhu udara, kelembaban udara, dsb. Sehingga jadi relatif lebih sensitif dalam merespon perubahan faktor-faktor lingkungan tersebut. Karena mengalami kondisi ini selama bertahun-tahun, jadinya saya menemukan pola. Misal, ketika cuaca sedang terik dan kering, namun tiba-tiba tangan saya berkeringat, biasanya beberapa menit setelahnya akan turun hujan. Tapi anehnya tidak akan terjadi kalau tangan saya tidak berkeringat, walaupun mendung sudah pekat sekalipun. Hal ini cukup sering saya alami. Sekitar 78% lah kalau kata Roy Suryo.😀

3. Kipas angin, wajib ada

Salah satu kondisi yang mengganggu akibat hiperhidrosis ini adalah ketika sudah sekali berkeringat, maka akan sangat sulit untuk menghentikannya. Kecuali “diakali” dengan air seperti yang sudah saya jelaskan di poin 1. Untuk itulah perlu ice breaking untuk menghentikan keringat, terutama saat mengawali hari setelah mandi. Jika proses pengeringan di awal hari ini berhasil, maka kemungkinan seharian penuh akan terbebas dari gejala keringat hiperhidrosis. Sehingga harap maklum jika orang-orang seperti saya tidak bisa terburu-buru dalam beraktivitas. Semuanya harus dalam kondisi setenang mungkin. Jadi algoritma umum setiap paginya seperti ini: bangun – wudhu – sholat – sarapan – mandi – menghadap kipas angin (5-10 menit) – berpakaian – mempersiapkan kendaraan – mempersiapkan alat kerja (laptop, dkk) – menghadap kipas angin lagi (5 menit) – bersepatu – baru berangkat. Mungkin itulah sebabnya saya sering telat (alasan). Oh ya, kipas angin bisa juga lho digantikan dengan AC.

4. Olah pernapasan untuk relaksasi

Ketika kipas angin tidak menolong, mungkin karena kelembaban udara terlalu tinggi. Hal yang sering saya lakukan adalah dengan berbaring di lantai, lalu melakukan olah pernapasan. Tujuannya adalah untuk relaksasi. Ketika dalam kondisi relak atau tidur, maka saraf otonom biasanya akan kembali ke kondisi awalnya, seolah-olah di-reset. Proses pernapasan ini saya lakukan antara 15-20 menit. Jadi bisa dibayangkan berapa lama total waktu persiapan yang saya lakukan sebelum beraktivitas.

5. Banyak stok sepatu, kaos kaki, dan pakaian

Tidak dapat disangkal, seringnya berkeringat berlebih bisa berefek samping pada apapun yang menempel di kulit dalam waktu relatif lama. Bukan basahnya yang mengganggu, tapi baunya. Sebenarnya keringat sendiri tidak berbau. Yang membuat bau adalah munculnya bakteri-bakteri (Bromhidrosis) yang ikut menempel di kulit dan secara alamiah memang suka dengan kondisi lembab, lalu kemudian bereaksi memunculkan bau tak sedap. Reaksi bau ini cukup cepat, sekitar 1-2 jam setelah keringat berlebih keluar. Oleh karena itu yang wajib dipersiapkan oleh penderita penanggung hiperhidrosis adalah stok (pakaian, kaos kaki, sepatu, dan jenis-jenis lainnya yang menempel secara langsung di kulit). Yang agak sedikit menimbulkan masalah bukan hanya banyaknya stok sebenarnya, melainkan harganya. Pakaian yang terbuat dari bahan penyerap keringat (katun dan sejenisnya) rata-rata tidak berharga murah. Dari pengalaman, ketika menggunakan kaos kaki yang harganya sepuluhribu tiga, yang banyak dijual di pasar kaget jumatan, hanya bertahan beberapa menit saja, karena tidak menyerap keringat sama sekali. Hal yang sama juga berlaku pada kaos, sarung tangan, kemeja, celana, dsb, termasuk sepatu. Bukannya saya mau promosi merk sepatu seperti: Kick*rs, atau Pierr* C*rdin, tapi setidaknya kedua brand itulah yang pernah saya pakai dan highly recommended bagi yang bermasalah dengan keringat dan bau di kaki.

NB: Sedikit tips, selain soal pakaian, yang perlu diperhatikan bagi orang yang mengalami hiperhidrosis adalah masalah kebersihan. Di kuku jari tangan atau kaki misalnya. Jangan sampai ada noda hitam di antara kuku dan kulit. Potong kuku secara rutin. Jika ada noda hitam segera bersihkan. Bagi yang mempunyai kelebihan uang dan waktu, cukup dengan perawatan (manicure & pedicure). Tapi bagi saya, cukup memanfaatkan sikat gigi bekas untuk membersihkan kotoran di sela-sela kuku. Gampang kok..

6. Feature phone lover

Dari dulu saya kurang begitu nyaman dengan penggunaan smartphone yang mempunyai fitur layar sentuh (touchscreen). Ketika telapak tangan dalam kondisi basah, respon perangkat seringkali tidak presisi, tidak selalu seperti yang saya inginkan. Ingin memencet tombol A malah lari ke S. Ingin scrolling ke bawah malah kepencet salah satu list item-nya. Terlebih jika yang saya gunakan adalah perangkat yang memiliki keterbatasan dalam hal responsifitas. Apakah perangkat yang diproduksi oleh brand bergambar buah apel krowak juga sama? Saya kurang tahu, karena belum pernah punya😛. Ketika meminjam pun tidak pas dalam kondisi berkeringat.

Setidaknya isu inilah yang sedikit banyak menjelaskan kekolotan atau kekonservatifan saya dalam memilih gadget untuk digunakan sehari-hari. Untuk tes aplikasi? Jelas beda😀.

7. Interaksi aneh dengan alat-alat

Menyetir mobil, membuka sekrup dengan obeng, menggunakan mouse, atau memegang raket bulutangkis, hanya satu masalahnya, licin. Mungkin cuek saja jika pas sedang sendirian, tapi akan berbuah malu jika kebetulan sedang ada orang lain di dekat kita. Untuk kondisi yang seperti ini, biasanya saya menggunakan bantuan kain lap kering atau tisu sebagai bahan penyerap. Yang agak sulit adalah kondisi ketika berada dalam keramaian, seperti di dalam Busway. Pas sepi dapat tempat duduk tidak masalah. Tapi ketika penuh berjejal dengan posisi berdiri, itu lain soal. Pegangan Busway yang didesain untuk pegangan satu tangan dengan posisi di atas kepala merupakan tantangan tersendiri bagi penderita penanggung hiperhidrosis seperti saya. Pernah satu ketika keringat di telapak tangan saya sedang dalam kondisi basah-basahnya karena macet berjam-jam, hingga sempat menetes ke muka orang. Licinnya sih tidak seberapa, tapi malunya yang luar biasa. Untuk meminimalisir hal itu, sekarang saya berusaha membiasakan diri untuk tidak berpegangan alias menjaga keseimbangan maksimal ketika di dalam Busway. Aneh bukan?

8. Puasa

Terus terang saya belum menemukan referensi yang cukup menjelaskan, mengapa ketika saat berpuasa, gejala hiperhidrosis seakan sekitar 88% tidak muncul. Apakah berhubungan dengan berkurangnya kadar gula dalam darah. Ataukah memang karena konsumsi air yang berkurang juga turut mengurangi kadar keringat yang keluar. Entahlah, saya belum menemukan korelasinya. Ada yang tahu?

9. Enggan bersalaman

Poin terakhir saya pikir sudah jelas. Mengalami hiperhidrosis adalah mengalami keadaan yang terkadang membuat minder ketika bersosialisasi. Bagi kami, prosesi bersalaman atau berjabat tangan ketika bertemu adalah mekanisme yang cukup horor. Pasalnya, di benak saya sendiri sering muncul, bahwa orang yang saya salami selagi saya dalam kondisi hiperhidrosis, akan nampak berpikir jijik bersentuhan dengan keringat saya. Tapi, ah, mungkin itu hanya perasaan saya saja🙂.

NB: Ada satu kata yang selalu saya coret ketika saya menjelaskan tentang penderita hiperhidrosis. Mengapa? Karena jika mau jujur, kondisi hiperhidrosis ini tidak selalu harus menderita kok. Pun juga bukan “penyandang” cacat fisik yang mempengaruhi fungsionalitas anggota tubuh secara umum. Mungkin saya akan merasa lebih malu jika menganggap hiperhidrosis adalah kondisi disabilitas, karena kenyataannya sangat jauh dari kondisi saudara-saudara kita yang memang dilahirkan demikian semenjak lahir. In sya Allah bersyukur adalah cara yang tepat dalam “menanggapi” kondisi ini dan kondisi apapun.

Semoga bermanfaat dan dapat berbagi keunikan dalam kebahagiaan. Salam…

 

16 thoughts on “Aktivitas Penanggung Hiperhidrosis

    1. hehehe…
      ga selalu keringetan sih Sand.. hanya dalam kondisi tertentu saja… kalau di jakarta atau surabaya, relatif lebih sering keringetan dibanding di bandung… makanya lebih nyaman hidup di bandung😀

      Like

      1. Pantesan dulu ndak ngeliat tangan mu basah.

        Bandung is the best lah ya. Asri.

        Btw kemaren saya pulang ke Jombang saya kaget .. tata kota nya jadi seperti Bandung .. banyak pohon2 besar.. mirip Malang juga.

        Padahal dulu gersang. Semoga pas pulang jadi lebih nyaman lagi.

        Like

      2. oh ya? wah kemajuan dong berarti… bicara soal kondisi ideal sih yaa harusnya semua kota/kabupaten, terutamanya yg kecil, musti mendapat porsi yg sama soal tata ruang… biar orang-orangnya ga pada kabur ke luar negeri gitu… hihihi

        Like

      3. Sepertinya memang saya kebanyakan ngeliat beton di sini. Jarang pohon-pohon besar seperti di Bandung. Jadi ngerasa pohon di Jombang juga terlihat asri.

        Like

    1. Ya begitulah, Mas. Dulu pas awal saya sempat minder terkait hal ini. Tapi setelah saya pelajari alhamdulillaah jadi semakin memahami diri sendiri secara lebih baik. Harapannya sih dengan begitu saya bisa lebih mudah memahami orang lain.

      Like

  1. oh iyya mas, saya juga penderita hiperhidrosis, tidak hanya di tangan, tapi juga di kaki,di atas bibir, bahkan juga di keti**k yang membuat saya minder sebagai perempuan. Dan saya berusaha untuk menutupi ‘keanehan’ saya ini. Saya juga ingin bersosialisasi dengan lingkungan sekitar saya tapi saya selalu ‘tahu diri’ dengan keadaan saya. Padahal sebenarnya saya merasa tidak kepanasan tapi saya tidak tahu kok bebrpa anggota badan saya ‘basah’. Saya juga termasuk tipikal org yang pilih2 baju, bahkan pernah beberp kali ibu saya mmbelikan baju tapi kainnya itu tipis, jadi saya tdk prnh menggunakannya. sejak saat itu ibu sy tdk mw lagi mmbelikan baju utk saya dan bahkan baju yg sy gunakan k tmpt2 itu bisa dibilang itu2 saja. soalx saya takut kalo daerah keti**k saya itu basah dan dlihat oleh org2 d sekitar saya. saya pasti akan malu soal itu. Apalagi saya adalah org yg pendiam, nervous sedikit sj pas mw presentasi keringatx udah luar biasa apalagi gak nervous. Maaf mas kepanjangan, saya tdk tahu mw cerita ke siapa, cerita sm keluarga aja responx datar bgt, katanya “ah, semua org jg ngalamin yg kyk gitu kok.” Terima kasih ^^.

    Liked by 1 person

    1. sipp… gpp kok, kondisi hiperhidrosis juga bukanlah kondisi yang benar-benar gawat… masih banyak yg lebih tidak beruntung dengan kondisi fisik yg lebih parah… tetap semangat…🙂

      btw, terima kasih ya sudah mampir dan mau cerita pengalamannya… tos dulu ah…😀

      Like

  2. Gue jg sama bgt nih nasibnya jadi penanggung hiperhidrosis…setuju bgt sama kata2 enggan bersalaman sama orang hihihi apalagi setiap ujian musti sedia tisu ato saputangan dlm jumlah besar…

    Like

  3. saya jg senasib
    ya memang seperti itu
    saya ga bs jauh dr kipas angin, ac, tisu, selalu ke kamar mandi hanya utk basuh tangan kaki, hindari bersalaman kalau pun akan ada yg bersalaman, saya harus remas2 tisu biar kering tangannya. malu jikalau bersosialisasi, krn tangan sll pegang tisu, dan sayabpun tdk prnh bilang tentang kondisi saya kpd tmn2. krn kalau saya beritahu, yg ada mereka akan melihat saya aneh.
    dan menjadi seorang pengajar seperti saya, jadi sulit krn hrs sll berjabat tabgan dg anak didik.
    sampai saat ini blm punya tmn yg senasib dg saya. mngkin kalau ada tmn dekat yg senasib, jd senang, bs saling memahami.
    dan memang benar hanya diri sendirilah yg hrs memahami hiperhidrosis, dan bersyukur alhamdulillah msh di berikan fisik sempurna🙂

    Liked by 1 person

    1. 🙂 betul, kita mah masih sempurna itungannya, bayangkan kehidupan orang-orang yang secara fisik sudah cacat dari lahir, mungkin hidup kita jauh lebih mudah daripada mereka. Makanya cara terbaik adalah bersyukur. Terima kasih komentarnya…

      Like

  4. Wah sedikit banyak sama nih, biasanya muncul pas nervous sama cuaca panas dan lembab. Terutama di Medan, Jakarta atau ketika kerja lapangan di dataran rendah pasti kumat hehe. Agak risih sebenarnya tapi yang namana kondisi given ya mau apalagi coba. Bersyukur saja sih🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s