Fanatik dan Antipati Sekadarnya


Bismillaah…

Seorang teman pernah menulis sebuah kalimat yang lebih kurang bunyinya seperti ini: “Di dunia ini tidak ada yang namanya objektif, semua orang pasti akan condong ke arah subjektifitasnya masing-masing dalam menilai sesuatu”. Yaa… kalau dipikir-pikir memang benar sih. Dimana-mana, secara naluriah orangtua pasti akan langsung membela anaknya yang (katanya tidak sengaja) menabrak orang dengan mobil mewahnya, walaupun sudah tahu kalau anaknya memang terbukti bersalah secara hukum. Dimana-mana, pendukung fanatik seorang tokoh, misal gubernur, akan selalu membenarkan semua hal yang dikatakan dan dilakukan oleh tokoh idolanya tersebut, walaupun sebenarnya sudah tahu kalau semua orang pasti mempunyai kekurangan, dan tidak ada salahnya untuk dikritik. Pun jika diposisikan sebaliknya. Jika sudah benci terhadap seseorang, ya benci saja. Kalau tidak suka dengan seseorang ya tidak suka saja. Apapun yang dilakukan, apapun yang dikatakan, walaupun itu benar, tetap saja tidak akan dikatakan “benar” oleh orang yang sudah antipati.

Sepertinya peribahasa “karena setitik nila rusak susu sebelanga” sudah menjadi hukum sosial yang membenarkan kita untuk membenci, mengutuk, dan mencaci orang-orang yang telah dicap berbuat salah, walaupun hanya sekali.

“Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya, karena bisa jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan, bencilah orang yang kau benci sekadarnya, karena bisa jadi pada suatu hari kelak ia akan menjadi orang yang engkau cintai.”

Anehnya, urusan fanatik dan antipati ini tidak membutuhkan alasan logis untuk mengungkapkannya. Mau semasuk-akal seperti apapun kalau sudah fanatik ya fanatik aja, kalau sudah antipati ya antipati aja, ga perlu alasan bla bla bla untuk menjelaskannya. Mungkin benar apa yang dikatakan Agnes Monica, “cinta itu kadang-kadang tak ada logika”. Atau nasib Geisha yang cukup kasihan karena “kau selalu benar dan aku selalu salah”.

7161

Katanya sih… jangan terlalu cinta lah, ntar malah jadi benci… juga jangan terlalu benci, ntar bisa jadi cinta.

Keep calm and never say never.

4 thoughts on “Fanatik dan Antipati Sekadarnya

  1. Memang sesuatu yang berlebihan kayanya tidak bagus. Lebih baik jika kita lebih menghargai perbedaan yang ada meski sebenarnya kadang sulit utk menghilangkan kefanatikan dan kesubyetifan thd sesuatu hal

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s