Uang Receh yang Nganggur


Bismillaah…

uang-receh

Saya sih 93% yakin bahwa kebanyakan dari kita pasti “menimbun” uang koin receh, baik itu yang berupa kembalian, ataupun secara tidak sengaja “nemu” di kantong jaket / celana. Timbunannya pun beragam, ada yang “ditabung” dalam wadah toples bekas kue lebaran, ada yang disimpan di laci, dan ada pula yang dibiarkan “ambyar” di atas meja / bufet berharap suatu saat bisa langsung tinggal ambil kalau-kalau ada pengamen atau pengemis lewat depan rumah. Atau bentuk lain yang sekarang sepertinya sudah cukup punah, yaitu berupa celengan babi atau ayam.

Kecenderungan “menimbun” ini menurut saya ada beberapa alasan yang mendasarinya, antara lain:

  1. Uang koin yang terbuat dari logam relatif lebih berat daripada uang kertas untuk dibawa kemana-mana.
  2. Tidak ada dompet yang umum untuk uang koin, kalaupun ada yang “merasa” laki-laki pasti tidak akan mau menggunakannya, kalau ada yang di kalangan perempuan pun yang menggunakan biasanya adalah ibu-ibu (segmented).Colorful_Coin_Wallet_1
  3. Karena tidak ada desain dompet yang cukup memfasilitasi, jadinya cukup repot untuk dibawa kemana-mana. Tempat yang biasanya otomatis terpikir adalah kantong, entah kantong celana, jaket, atau baju. Alhasil, bunyinya pun “kricik-kricik” jika jumlahnya sudah banyak.
  4. Sudah jarang adanya barang-barang yang bisa dibeli dengan satuan uang koin. Nambah angin ban saja sekarang minimal sudah Rp.2000 yang sudah tentu lebih enak kalau diganti dengan uang kertas dengan nilai yang sama.
  5. Koleksi. Kalau ini saya tidak akan berkomentar lebih jauh.

Di sisi lain, pihak Bank Indonesia sebagai otoritas pemerintah RI dalam dunia “uang” sebenarnya menginginkan perputaran yang lancar terhadap uang koin di masyarakat. Namun kenyataannya, rata-rata orang masih enggan untuk menggunakannya. Bagaimana mau dipakai membayar lha wong harga barang-barang sudah pada naik gila-gilaan. Untuk membayar dengan uang koin jelas semakin merepotkan. Orang akan lebih cenderung membayar dengan uang kertas Rp.2000 untuk membeli sebuah coklat b*ng-b*ng yang harganya Rp.1.100 daripada harus membayarnya dengan kombinasi lebih dari satu uang koin (Rp.1000+Rp.100; Rp.500+Rp.500+Rp.100; Rp.200×5+Rp.100; dst). Belum lagi label-label harga di toko kelontong bermerek, seperti Ind*m*rt, Alf*m*rt pada umumnya tertulis “tidak wajar”. Misalnya, wafer sel*m*t kemasan 60gr tertera Rp.4.665. Mau menggunakan kombinasi uang koin yang berlaku sekarang berapapun ya tidak akan pas harga segitu. Ujung-ujungnya yang paling dekat nilainya adalah menggunakan uang kertas Rp.5000 dengan kembalian Rp.300. Itupun kadang kita sumbangkan (entah kemana) langsung pada saat transaksi itu juga. Intinya, ribet. Dan pada akhirnya sama juga, kita sering menerima kembalian dalam bentuk uang koin super receh dengan nominal terbanyak Rp.100 atau Rp.200, yang hampir dapat dipastikan juga bakalan “tertimbun”.

Nah kapan timbunan uang koin ini keluar dari kita-kita yang biasa menerima kembalian? Sudah jelas kalau tidak ke pengemis, pengamen, yaa kotak amal. Pertanyaan selanjutnya adalah setelah dari mereka-mereka ini, kemana lagi ya akan mengalir? Belum tahu. Mungkin perlu penelitian yang “njlimet” untuk soal peredarannya di sektor underground ini. Yang jelas, dari BI sendiri pernah mengungkapkan bahwa uang koin yang kembali ke bank menempati prosentase yang cukup kecil dibandingkan keseluruhan uang koin yang pernah dicetak. But, CMIIW ya…

Wallaahualam..

———————————————————–

Gambar 1 di-copy dari: http://tumbuhberbagidiridhoi.blogspot.com/2013/05/jangan-cari-uang-receh.html

Gambar 2 di-copy dari: http://www.lakupon.com/kupon/view/simpan-uang-koin-dalam-colorful-coi

15 thoughts on “Uang Receh yang Nganggur

  1. Biasanya (berdasar pengamatan saya) dari pengamen dan pengemis, uang recehnya dibawa ke tempat-tempat seperti Indonmaret gitu buat dituker uang kertas, Mas Andik. Indonmaret-nya untung nggak perlu ke bank buat punya uang receh, pengamen/pengemis juga untung gak perlu nggembol duit receh hasil banting tulangnya seharian😀

    Like

    1. ooo I see.. berarti memang arahnya ke situ ya… yg agak problem mungkin justru di kita2 yg sering menimbun di toples atau celengan kali ya… hehehe, saya ngalamin soalnya, bingung… mau dipake belanja males bawanya, ga dipake juga nganggur, akhirnya ditimbun dah… oh ya, iseng2 pernah saya hitung ternyata bisa nyampe 100an ribu lebih…😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s