Nyocot dan Nyacat


Bismillaah…

Image

Tiba-tiba teringat ungkapan Jawa yang berbunyi “Ojo seneng nyocot lan nyacat wong liyo, ngilo’o githokmu dhewe”, yang artinya lebih kurang: “Jangan suka menghina dan mencari-cari kesalahan orang lain, bercerminlah pada tengkukmu sendiri”. Ungkapan ini setidaknya membuat saya sedikit berpikir sejenak, bagaimana mungkin bercermin melihat tengkuk sendiri… kecuali mungkin menggunakan kaca dobel, itupun cukup sulit karena angle-nya harus pas. Yaa… kira-kira seperti itulah kondisinya jika kita hendak instrospeksi diri. Seperti bercermin melihat tengkuk sendiri. Cukup sulit bukan?

Itulah mengapa lebih banyak diantara kita yang (tidak sengaja) memilih mengintrospeksi orang lain, karena memang jauh lebih mudah melihat “githok” orang lain daripada “githok” sendiri. Lebih mudah mengatakan “bro… ada panu di tengkuk ente bro”, daripada memeriksa panu sendiri. Lebih mudah menunjuk “apaan tuh yang nempel di punggung sampeyan??”, daripada menunjuk ada kecoak yang sedang nangkring di punggung sendiri. Pun jauh lebih mudah mengatakan “ini dimana sih gubernurnya kok ga keliatan? banjir dimana-mana gini malah sibuk sendiri ngurusin partai”, daripada terjun langsung membantu walaupun hanya sekadar menyebar Ind*mie. Padahal kalau dipikir-pikir memangnya kalau gubernur datang lalu tiba-tiba banjir otomatis menjadi surut? Mengapa sudut pandangnya tidak coba kita ubah sedikit. Bagaimana kalau kita sendiri yang diberi peran sebagai orang yang kita “cocoti”. Apakah kita masih akan bilang bahwa kita sendiri yang paling hebat?

Layaknya dalam sebuah pertandingan bola, yang paling suka mencaci maki adalah penonton dan komentator. Padahal belum tentu lebih bagus skill-nya jika disuruh ikutan main. Lebih parah sudah pasti. Tapi yaa… nyatanya itulah yang banyak terjadi di lingkungan kita sekarang. Sepertinya semakin banyak orang yang merasa sudah menjadi pengamat politik handal dengan hanya bermodal posting kritik tajam di media sosial.

 

Nyocot dan nyacat terlihat lebih nikmat. Introspeksi diri membuat kita rendah hati.

Benci dan laknat pun menjadi tabiat. Apa daya capability sejatinya tidak memadai.

——————————————————————————-
“Allah tidak menyukai seseorang menampakkan keburukan orang lain dengan ucapannya, kecuali orang yang dianiaya.” (QS An-Nisaa:148)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s