Pengalaman Menarik Ikut MLM


Bismillaah…

Teringat masa-masa kira-kira 9 tahun yang lalu, ketika itu saya baru menjadi mahasiswa dan menikmati hari-hari pertama sebagai anak kos. Semula saya mengira bahwa hidup sebagai anak kos itu selalu menyenangkan, karena bisa mempunyai kebebasan untuk bersikap mandiri dan terlepas dari kungkungan orangtua dan keluarga. Apalagi… didukung oleh kondisi kota Bandung dengan udaranya yang dingin dan segar, serasa menjadi tempat yang paling pas untuk memanjakan diri menikmati indahnya liburan setiap harinya. Wajar memang, jika dibandingkan dengan panasnya kondisi udara kota Surabaya, tempat tinggal asal saya, sangat timpang jauh. Jika di Bandung ada kabut pekat yang keluar setiap paginya (waktu itu), maka di Surabaya dapat dipastikan terdapat juga asap kendaraan bermotor yang juga tidak kalah pekatnya.

Sebulan dua bulan pertama memang terbukti merupakan saat-saat yang paling menyenangkan bagi saya. Uang saku sebesar Rp. 250.000 per bulan yang dikirimkan oleh Bapak waktu itu memang belum begitu terasa faedahnya, karena saat itu saya benar-benar totalitas menikmati kebebasan sebagai anak kos dengan menghambur-hamburkan uang tabungan saya semasa masih duduk di bangku SMA. Makan bisa sampai 5 kali sehari, beli tas baru, beli sepatu baru, dan tak lupa stok cemilan yang sepertinya jadi menu wajib ketika sedang “iseng” corat-coret menjawab soal-soal Kalkulus dan Fisika Dasar. Makanya tidak heran jika berat badan saya dulu pernah 10Kg lebih berat daripada sekarang. Percaya?? Ga percaya?? Tanyakan Pak Leo saja.. hehe.

2-3 bulan berikutnya, rasanya mulai ada kejanggalan yang ditandai dengan drastisnya penurunan saldo tabungan saya. Setelah dihitung-hitung, ternyata pengeluaran saya sangat jauh di atas nominal uang saku yang diberikan oleh Bapak. Akhirnya baru nyadar, ternyata menjadi anak kos memang tidak mudah dalam masalah finansial, terutama bagi saya yang berasal dari keluarga yang “kurang berada”. Mungkin gambaran kurang lebihnya mirip dengan lagu “Nasib Anak Kos” yang dulu pernah populer dibawakan oleh P Project. Tapi saya yakin, banyak di antara rekan-rekan yang dulu pernah juga mengalaminya. Jadi, saya tidak terlalu banyak menceritakan bagaimana kondisi detilnya menjadi mahasiswa yang “ngekos” dan notabene belum punya penghasilan sendiri.

Sumber gambar dari: http://www.solidblogger.com/wp-content/uploads/2009/12/chain-marketing.jpg

Ok, kembali ke kisah manajemen keuangan saya. Kebetulan waktu itu ada teman kos yang mengenalkan seorang temannya yang katanya mempunyai sebuah bisnis yang menjanjikan penghasilan “wah” hanya dalam waktu “tidak lama” dan dengan modal yang “tidak banyak”. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa sekitar tahun 2000-2001 an banyak beredar bisnis-bisnis “cepat saji” dan menjanjikan keuntungan “luar biasa” yang populer kita sebut sebagai MLM. Nah, temannya teman ini adalah anggota dari salah satu brand MLM ternama waktu itu, sebut saja *N*. Awal mulanya kami, beberapa anak kos di Karang Tumarits – Sadang Serang, Bandung, diberikan penjelasan mengenai bisnis ini (istilah kerennya saat itu adalah “diprospek”). Sebelumnya sempat ragu dan khawatir. Karena jujur saja, waktu itu memang banyak mendengar kabar “miring” seputar bisnis MLM. Tapi karena sekitar 6-7 orang sepakat untuk ikut, saya pun memutuskan untuk bergabung. Dengan modal awal sekitar Rp. 282.500 per orang, kami mendapatkan starter kit + beberapa item barang / makanan yang tentunya untuk dijual. Sepertinya uang dengan jumlah tersebut terasa sangat besar bagi saya waktu itu. Bagaimanapun juga jumlah itu sudah melampaui jatah uang hidup saya per bulan yang dikirimkan oleh Bapak. Tapi karena dengan modal kenekatan dan ke”culun”an, saya tetap memaksakan diri untuk ikut, dan dimulailah pengalaman saya di dunia MLM.

Kagok dan kaku adalah kesan yang didapat pertama kali ketika menjalankan bisnis ini. Baik saya sendiri maupun teman-teman, semua merasakan “ternyata sulit ya jualan itu”. Jangankan terjual, mau menyapa orang untuk promosi barang dagangan saja bingung setengah mati. Ada yang malu tak terkira, ada yang hampir memutuskan untuk berhenti, sampai ada juga yang berstrategi mengkonsumsi beberapa item dagangannya sendiri dengan harapan nantinya dapat menceritakan keunggulan-keunggulan dagangan kita kepada calon konsumen melalui testimonial yang meyakinkan karena telah merasakan sendiri. Saya sendiri termasuk yang penasaran ingin mencoba merasakan produk dagangan sendiri. Overall… produk-produk yang dijadikan barang dagangan memang memiliki kualitas yang bagus, hanya saja harganya yang relatif lebih mahal dibanding produk serupa di pasaran. Not bad… dengan cara seperti ini ternyata lebih efektif, meskipun kurang lebih 2 minggu setelah pendaftaran menjadi anggota hanya 2-3 item yang terjual.

Upline kami ternyata mempunyai solusi yang lebih baik. Jika menjual door-to-door sangat sulit, maka mungkin akan lebih mudah jika menjualnya ke orang-orang yang sedang berkumpul. Karena rata-rata yang membeli adalah ibu-ibu, maka waktu itu yang kami sasar adalah acara arisan ibu-ibu PKK. Tanpa pikir panjang kami langsung menyebar sesuai area RT RW yang telah kami bagi rata. Alhasil… 2- 3 acara arisan, barang dagangan kami habis terjual, bahkan ada seorang rekan yang sampai membeli lagi sepaket dagangan karena permintaan yang cukup tinggi. Ada hal-hal menarik jika kita berjualan di antara ibu-ibu yang sedang arisan. Secara teori, kebanyakan ibu-ibu itu mempunyai karakteristik gampang “panas” jika ada temannya yang membeli sesuatu. Tipikal seperti inilah yang benar-benar kami manfaatkan saat itu. “Bu… Ibu ga beli? barang ini bagus lho Bu buat Ibu… Ibu X aja barusan beli 2, masa Ibu ga ikut mencobanya”. Dengan sentilan seperti ini saja, maka dapat dipastikan 80% Ibu tersebut akan jadi membeli barang dagangan kita. Inilah pelajaran pertama kali tentang bagaimana memahami psikologi orang yang saya dapatkan dari mengikuti MLM😀.

2 -3 bulan berlalu dengan hasil penjualan yang “lumayan”. Agenda pertemuan dan sharing jadi semakin padat. Karena selain menjual, jika kita ikut MLM, biasanya akan diwajibkan juga mengikuti acara pertemuan yang diadakan secara rutin untuk sharing sesama anggota dan untuk menjaga stabilitas semangat kita. Memang… ada yang didapat ketika mengikuti acara-acara tersebut. Seperti: “tanamkan dalam bawah sadarmu bahwa kamu bisa, maka kamu pasti akan bisa melakukannya”, “sukses itu adalah setelah kita menyukseskan orang lain”, dan petuah-petuah bijak lainnya yang memang bagus jika diterapkan untuk meningkatkan motivasi diri sendiri. Tapi… bukan itu yang menjadi ganjalan bagi saya waktu itu. Ternyata hampir semua dari kami mempunyai masalah serupa, yaitu nilai di perkuliahan yang memprihatinkan. Indeks prestasi semester awal 2 koma alhamdulillaah bukanlah suatu prestasi yang pantas dibanggakan, bahkan termasuk aib jika itu terjadi di masa TPB (masa satu tahun pertama perkuliahan yang notabene mata kuliahnya masih umum, belum spesifik terhadap jurusan masing-masing) yang “katanya” gudangnya untuk mendapat nilai A dan B. Well… hidup adalah pilihan Jenderal…

Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya beberapa dari kami satu per satu mulai meninggalkan bisnis ini. Bagaimanapun juga, orangtua melepas kami di tempat yang jauh ini dengan tujuan untuk kuliah dan belajar. Rasa-rasanya amanah itu tidak boleh diabaikan begitu saja. Saya sendiri sepertinya sudah merasa cukup dengan pengalaman mengikuti MLM ini, karena disamping sudah balik modal dan tambahan beberapa dus barang dagangan yang tersisa, ternyata nasib nilai saya adalah yang paling terpuruk diantara teman-teman saya yang lain, ada 2 mata kuliah saya yang mendapat nilai E (tidak lulus) dan harus diulang. Cukup menjadi bahan introspeksi bagi saya waktu itu, bahwa kita boleh melakukan apapun selama tanggung jawab kita sendiri sudah terlaksana dengan baik.

Begitulah sekelumit pengalaman saya mengikuti MLM. Penilaian saya pribadi, untuk pengembangan motivasi diri, MLM biasanya sangat bagus dalam memfasilitasinya. Tentunya terlepas dari sistemnya yang kurang baik atau bagaimana penilaian orang. Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada yang kurang berkenan, mungkin terlalu panjang, hehe.

11 thoughts on “Pengalaman Menarik Ikut MLM

  1. mas ono sing apek mas
    MLM asuransi, tdk jualan tp ngajak slamet lan iso jd jutawan serta yg pasti mengembangkan diri.
    pertama di indonesia lho mas Asuransi di MLMkan.
    masih baru ni mas,peluangnya besar.perusahaan dan gopublik..terjamin.
    buka aja di http://www.reliance-rgm.com
    PELAJARI, RENUNGKAN, TERTARIK yo ndang
    hubungi kulo mas (085710374900)

    Like

  2. Waw, 2010 ._. pengalamannya menarik juga mas. tapi balik modal juga ya ._. kalau yang kapal pesiar-pesiar gitu gimana mas? lah, kok menambah buruk nilai? tapi emang ada sih ya yang gara-gara MLM jadi ada yang meninggalkan kuliahnya ._.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s